Hallo!
Yah hari ini hari pertama kuliah. Baru saja hari pertama tapi saya sudah mendapatkan tugas buat minggu depan. Yeah, that's Kyoto University for ya.
Anyway, berhubung sudah mulai kuliah, sepertinya kehidupan saya mulai kembali sibuk, dan saya harap bisa menjaga fisik saya supaya kuat. Sudah lama sekali sejak saya melatih fisik saya di Jepang, yah kira-kira 5 minggu di Indonesia saya sama sekali tak melakukan kegiatan fisik yang berat, alhasil saat saya kembali ke kehidupan kampus, saya jadi cepat lelah.
Sebenarnya semester ini cenderung lebih sedikit matkulnya, saya jadi berkeinginan untuk mengikuti salah satu klub di Kyodai, yaitu Art Club. Terdengar menyenangkan karena mereka hanya ngumpul dan melakukan sketsa. Meski begitu, jika suatu saat klub ini mengganggu jadwal belajar saya ya tentu saja saya akan berhenti.
Selain itu, asrama saya mulai kedatangan orang-orang baru yang exchange di Kyodai. Jadi banyak muka-muka baru di sini. Tapi yah, orang tipe seperti saya yang kurang suka dengan sosialisasi sih acuh tak acuh menghadapi mereka.
Welcome party pun mulai diadakan, seperti di PPI, dan juga asrama saya. Lumayan deh dapat makanan gratis haha.
Memasuki musim gugur, suhu di sini mulai turun dengan cepat. Bahkan sekarang pun meski baru awal musim gugur, sudah mencapa 18 derajat celcius. Udara dingin kadang terasa menusuk kalau saya sedang naik sepeda. Mungkin saat musim dingin nanti, saya tak bisa memaksakan diri untuk naik sepeda ke kampus. Karena jujur saja, saya lebih tahan panas daripada dingin.
Yah, sudah saatnya kembali fokus pada apa yang harus saya kerjakan.
Salam,
Mitzi Alia
Showing posts with label international course. Show all posts
Showing posts with label international course. Show all posts
Thursday, October 1, 2015
Friday, August 14, 2015
Katsura Campus Visit
Doumo,
Sudah hampir seminggu, yah sebenarnya saya tak sibuk belajar atau urusan kuliah. Tentu saja, sudah saatnya liburan musim panas! Ya, beberapa hari ini saya lalui dengan jalan-jalan ke berbagai tempat, makanya baru sempat posting lagi. Yap, その話はあとで、今京都大学を話しましょうか。
Katsura Campus, jadi Kyodai itu punya 3 kampus utama, Yoshida, Katsura dan Uji. Sebenarnya 3 nama itu diambil dari lokasinya sih, Yoshida Campus berarti di Yoshida, Katsura Campus berarti di Katsura, dan Uji Campus berarti di Uji. Nah, kampus utama dari engineering itu di Katsura, berarti banyak lab-lab untuk tahun ke 4 yang lokasinya di Katsura. Makanya banyak senpai yang bolak-balik Yoshida-Katsura pas tahun ke 4.
Nah, minggu lalu, 5 agustus 2015, kami mahasiswa Kyodai dari fakultas engineering difasilitasi campus visit dan berkunjung ke Katsura untuk melihat lab-lab yang keren itu. Lumayan jauh yah dari Yoshida, sekitar 40 menit naik bus. Dan bus nya pun sudah disediakan oleh pihak kampus. Siang hari kami berkumpul, sekitar pukul 1 siang, lalu langsung menuju Katsura.
Sunday, May 31, 2015
Sungai
Konbanwa.
Tumben saya post malem-malem ya, yah, tidak apalah, mumpung saya lagi mengerjakan tugas yang berhubungan dengan 'sungai' saya akan sedikit membahas sungai di Jepang. Hampir semua sungai di Jepang mirip sih, jadi saya hanya akan membahas satu sungai yang cukup terkenal di Kyoto, yaitu Kamo-gawa.
Minggu lalu saya baru saja field observation dalam mata kuliah 'Introduction to Global Engineering'. Mata kuliah ini seperti mengenalkan submajor di dalam jurusan saya, yaitu Civil Engineering. Kebetulan dalam kelas kali ini, saya mendapatkan kelas urban and landscape design dan kita pun menganalisa landscape dari sungai besar di Kyoto, untuk mengetahui elemen-elemen yang berpengaruh di sekitar sungai tersebut.
| Ini Kamogawa dari satu sudut, bisa liat Gunung Daimonji di belakangnya |
| Ini persimbangan Kamo-gawa, di dekat stasiun Demachiyanagi |
| Kamo-gawa dari bagian atas |
Selama field observation ini, saya banyak mendapat informasi mengenai sungai-sungai di Jepang, terutama Kamo-gawa. Ternyata memang, Jepang sudah lebih dulu maju dari Indonesia. Mengapa? Menurut cerita yang saya dengar dari Profesor saya, Jepang telah memulai industrialisasi sejak tahu 1890, dan di saat itu, banyak sekali industri-industri yang memanfaatkan sungai sebagai limbah pembuangan. Sadar akan hal tersebut yang salah, bahwa air adalah sumber kehidupan mereka, 20 tahun kemudian akhirnya mereka memulai memindahkan industri ke daerah pinggir kota dan membuat regulasi yang sangat ketat mengenai pembuangan limbah pabrik mereka. Yang membuat saya terkejut, mereka juga mengadakan kegiatan volunteer untuk membersihkan sungai yang telah terkontaminasi. Saya penasaran apa yang mereka lakukan untuk mengatasi sungai terkontaminasi itu, tapi profesor tidak memberitau lebih lanjut mengenai hal itu, dan juga sepertinya agak sulit baginya untuk menjelaskan dalam bahasa inggris. Kegiatan sukarelawan untuk membersihkan sungai itu juga masih berlangsung samapai sekarang. Tak heran sungai di Jepang sangatlah bersih dan indah.
| Tumbuhan sengaja dibiarkan tumbuh untuk menjadi tempat tinggal ikan ikan kecil |
Di Indonesia, tak akan terpikirkan oleh saya untuk main air di sungai, karena sungai di Indonesia berwarna coklat. Tentunya tidak ada yang mau mandi atau bermain di sungai seperti itu. Di saat yang sama juga, saya sadar bahwa di waktu Jepang menyadari pentingnya sungai, Indonesia justru baru memulai industrialisasi dan membuang sampah juga limbah di sungai. Sungguh ironi.
Sungai yang telah dibersihkan itu juga tidak hanya dibiarkan alami, tapi dibangun sedemikian rupa sehingga warga tertarik untuk menghabiskan waktu di pinggir sungai, untuk piknik, sekedar berjemur, atau lari dan bersepeda di sepanjang aliran sungai. Sistem undakan, aliran pembuangan air dan shotcrete juga diaplikasikan dengan baik di sungai. Jembatan-jembatan dibangun dengan struktur yang baik (lain kali saya akan membahas tentang jembatan, karena Jepang juga sangat terkenal dengan jembatan yang kokoh).
| Ini shotcrete yang diaplikasikan di pinggir sungai |
| Ini jembatan antar jalan, di bawahnya ada jalanan sepanjang aliran sungai untuk jogging atau berseda |
| Undakan air untuk megurangi kecepatan aliran air |
| Kamo-gawa juga sebagai tempat rekreasi |
| Beberapa anak yang bermain di Kamo-gawa |
Bersama teman sekelas, kami berdiskusi mengenai sungai-sungai yang ada di negara masing-masing. Saya merasa, mengikuti kuliah di luar negeri memang sangat menguntungkan, meski berat. Wawasan saya bertambah sangat pesat. Selain karena saya adalah foreigner, mata kuliah di kelas saya dan teman internasional mendukung saya untuk semakin berpikiran meluas. Tidak seperti di Indonesia, saya tidak akan bisa mendapatkan pengetahuan seperti ini.
| Teman-teman saya melakukan observasi |
| Yah sempet juga lahya ambil foto |
Mata kuliah saya juga sangat beragam, kebanyakan yang 'mendokusai' itu malah menambah wawasan saya, yah memang karena sulit dan berat itulah jadinya saya harus melakukan berbagai pencarian, penelitian dan analisa. Seperti saat saya melakukan tugas mengenai kelas struktur dan kelas geomekanik, yang mengharuskan saya membaca berbagai jenis paper dan menganalisa sendiri cara kerja masing-masing sistem atau struktur. Sungguh ini ngerepotin banget, tapi setelahnya, saya jadi tau tentang hal itu, dan membuat saya memiliki wawasan lebih luas. Yah, memang semua akan indah pada saatnya.
Salam,
Mitzi Alia
Friday, May 22, 2015
Structural Engineering
Hisashiburi ne.
Wah sudah 2 minggu sejak golden week. Yah, sangat sibuk. Bentar lagi sudah masuk minggu midterm. Tak heran sebagian dosen memperbanyak PR, report, dan tugas presentasi. LELAH KAWAN. Yah, inilah rasanya kuliah di negeri orang. Kupu-kupu ya, bisa dibilang gitu. Sekalinya ada hari libur seperti sabtu dan minggu pun saya gunakan untuk mengerjakan tugas minggu depan, supaya tidak numpuk di waktu deadline. Selain tugas juga saya harus belajar sedikit demi sedikit, mempersiapkan ujian nanti. Saya juga ikut les privat bahasa Jepang, dan sensei meminta saya untuk menghapalkan 128 kanji. Oke, saya tak lagi punya waktu santai.
Yah, selain kesibukan yang saya lewati akhir-akhir ini, saya baru saja dikenalkan dengan kelas structural engineering. Seperti judul post kali ini, saya sangat tertarik dengan major ini, sesungguhnya. Karena tentunya Jepang sudah sangat terkenal dengan berbagai structure yang telah mereka buat dan memiliki kemampuan tingkat atas, contohnya saja seperti skyscraper, bridge, dam, rock anchor, water tunnel, underwater tunnel, dan sebagainya.
Mengikuti kelas ini, telah memberi saya lebih banyak wawasan tentang structural engineering. Dosen saya membagi kelas dengan kelompok yang terdiri dari 2 orang, oke maksudnya berpasangan. Dan masing-masing dari kami harus mempresentasikan sebuah struktur, bagaimana cara kerjanya, bahannya, juga case study-nya. Karena hasil dari presentasi itu yang paling menarik bagi saya adalah mekanisme skyscraper, maka saya hanya akan membahas skyscraper kali ini.
Banyak dari teman-teman saya mempresentasikan skyscraper tertinggi di dunia, seperi Tokyo Skytree di Tokyo (634m), Burj Khalifa di Dubai (830m) dan Canton Tower di Guangdong (600m). Mereka menceritakan mekanisme pembuatan gedung tersebut sehingga bisa tahan dengan hempasan angin, getaran tektonik, dan juga cara menjaga kestabilan gedung agar tetap berdiri menjulang.
![]() |
| Tokyo Skytree |
| Canton Tower |
| Burj Khalifa |
Saya juga baru tau ada mekanisme bernama "tuned mass damper" yang biasanya diposisikan di bagian atas skyscraper yang berfungsi untuk menjaga kestabilan gedung tersebut. Caranya yaitu, ketika gedung tersebut mengalami goyangan ke kanan, bola damper ini akan bergerak ke kiri, dan juga sebaliknya, sehingga meniadakan goyangan yang dirasakan gedung.
| Contoh mass dumper |
| Mass dumper dari dekat |
| Ini cara kerja mass dumper |
Selain karena mekanisme itu, skyscraper tersebut juga punya ciri khas masing-masing untuk mempertahankan gedungnya. Contohnya, Tokyo Skytree dengan bentuk tripoid nya, yaitu desain yang dibuat mirip dengan tripod kamera. Tokyo Skytree memiliki fondasi yang kuat, dilambangkan seperti akar yang kuat untuk menopang pohon besar.
| Bentuk fondasi Tokyo Skytree |
| Struktur tripoid Tokyo Skytree |
Sementara Canton Tower memiliki bagian "twist" di tengah gedungnya, yang merubah arah oval bagian dasarnya. Canton pada dasarnya hanya terdiri dari 3 pattern, yaitu columns, rings, dan braces. Pattern ini disusun sedemikian rupa, menghasilkan struktur geometri yang rumit dan kuat.
| Struktur Canton dari atas |
| Ini bagaimana "twist" Canton didasari |
Umumnya, gedung skyscraper memiliki celah-celah atau pattern-pattern steel seperti Tokyo Skytree dan Canton Tower di bagian luar gedung, untuk mengurangi kecepatan angin yang datang dengan memecahnya di bagian celah-celah pattern steel tersebut. Tapi, tidak bagi Burj Khalifa yang memiliki konsep lain untuk meminimalisir hempasan angin yang menerpa gedung setinggi 830m ini.
Burj Khalifa didesain sangat unik, membentuk segitiga yang berbeda dengan Tokyo Skytree. Bentuk yang unik ini, selain menjadi ciri khas Burj Khalifa, juga menjadi sanggahan yang kuat untuk menahan gedung tertinggi di dunia ini.
| Ini dasar bentuk Burj Khalifa |
Desain Burj Khalifa sangat unik, saya pun terpesona melihat kehebatan mekanisme gedung tersebut. Segitiga itu juga tidak hanya untuk memperkuat fondasi gedung, tapi juga untuk memecah kecepatan angin yang menabrak gedung, karena seifat fluida udara, yang akan terpecah bila menabrak ujung segitiga, dan juga akan memperlambatnya ke arah lain.
| Bentuk unik Burj Khalifa |
![]() |
| Mekanisme angin yang dihadapi Burj Khalifa |
Saya sangat beruntung bisa mengetahui hal ini, dan saya senang bisa mempelajari banyak dari kelas ini. Saya berharap bisa terus memahami structural engineering, sehingga saya bisa menerapkannya di Indonesia kelak.
Sebagai penutup, ini beberapa perbandingan skyscraper di dunia.
Salam,
Mitzi Alia.
Sunday, April 12, 2015
International Course Program of Civil Engineering
Panjang ya? Lumayan. Itu adalah nama kelas saya selama berkuliah di Kyoto University. Tidak banyak dari mahasiswa lokal Kyodai yang mengetahui adanya International Course di Kyodai. Setiap tahun bisa berbeda-beda jumlah muridnya, tergantung penerimaannya. Tahun saya, kelas ini berisikan 14 orang internasional dan 10 orang Jepang. Lumayan banyak bukan orang Jepangnya? Seperti yang sudah saya jelaskan bahwa kelas ini termasuk dalam program Global 30 milik pemerintah Jepang.
Tentunya banyak perasaan bergejolak saat saya diterima kampus ini, perasaan bahagia karena akhirnya saya bisa bersekolah di Jepang, perasaan sedih karena harus meninggalkan tanah air, dan perasaan takut untuk menghadapi rintangan di sana.
Awal kali pertama saya bertemu dengan teman sekelas adalah dengan beberapa anak yang tinggal di dorm yang sama dengan saya. Meski tidak semua anak internasional tinggal di sana. Berikutnya kami berkenalan lebih banyak saat health check up. Kebetulan sekali bahwa kita bertemu saat sedang antri untuk health check up. Kami pun berkenalan, dan pada hari yang sama, Kyodai sedang mengadakan sejenis open recruitment bagi yang ingin mengikuti club di Kyodai. Karena itulah kampus sangat ramai dengan mahasiswa. Mungkin sama dengan saat Open House Unit ketika di ITB.
Setelah health check up, saya dan beberapa teman sekelas saya berkeliling Kyodai untuk menyaksikan keramaian tersebut. Saya sebenarnya hendak mengikuti club, tapi saya takut karena saya tidak bisa berbahasa Jepang. Ada banyak sekali club di Kyodai, mulai dari sports, arts, dan music, bahkan di bagian sport ada seperty rugby, american football, skating, skiing, rowing, lacrose, sumo, kendo, aikido, dan masih banyak lagi olahraga yang tidak ada di Indonesia. Setelah puas berkeliling, kami pun berpisah. Sebab saya harus mengantar kepulangan ibu saya kembali ke Indonesia. Sedih, tapi saya harus bertahan, karena bersekolah di Jepang adalah hal yang saya inginkan. Tidak mungkin saya menunjukan wajah sedih kepada ibu saya yang hendak meninggalkan saya sendiri di negeri orang.
Hari-hari berikutnya saya lalui sendiri, ya bersama teman seperjuangan saya yang sama-sama dari Indonesia. Untungnya ada banyak senpai dari Indonesia yang berasal dari course yang sama seperti saya, sehingga saya bisa banyak bertanya jika ada hal yang saya bingungkan.
Sama seperti kampus di Indonesia, Kyodai pun memiliki opening ceremony untuk semua mahasiswanya. Yang berbeda adalah pakaian yang digunakan untuk menghadiri acara tersebut, yaitu setelan jas berwarna hitam. Mungkin memang tidak diharuskan berwarna hitam, tapi berwarna gelap. Kebanyakan memang menggunakan warna hitam. Opening ceremony tidak berlangsung di wilayah kampus, tapi di suatu gedung bernama Miyako Messe. Tidak berlangsung lama, hanya sebuah pidato panjang berbahasa Jepang dari president of Kyodai, dan opening ceremony pun selesai.
| Inilah suasana opening ceremony |
Setelah opening ceremony selesai, kami berjalan menuju kampus, untuk menghadiri guidance. Guidance pertama adalah untuk seluruh mahasiswa engineering di Kyodai, dalam bahasa Jepang. Guidance kedua adalah untuk International Couse, berbahasa inggris. Kami mempelajari bayak hal mengenai course ini dan beberapa peraturan penting seperti syarat lulus, lokasi kelas, timeline perkuliahan dan mata kuliah yang harus diambil. Pada dasarnya, mata kuliah yang kami ambil telah diatur oleh pihak universitas. Tapi kami harus tetap menambahkan beberapa matkul untuk memenuhi kuota ‘syarat lulus’. Dan setelah dihitung-hitung, saya mengambil 31 sks untuk semester 1 ini. Angka yang cukup banyak bila dibandingkan dengan sks kebanyakan di Indonesia. Tapi tentunya matkul yang saya ambil di awal ini kebanyakan adalah mata kuliah social sebagai tambahan. Sehingga belum terlalu rumit dalam pembahasannya.
Setelah guidance tersebut, ada welcome party yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa international course dari angkatan pertama sampai angkatan saya, juga profesor yang akan mengajar di kelas nanti. Ini adalah ajang untuk saling mengenal satu sama lain tentunya.
| This is my classmate! |
| Ini foto setelah welcome party |
| Inilah seluruh International Course dari angkatan pertama |
Kelas saya untungnya kelas yang paling banyak memiliki perempuan jika dibandingkan dengan kelas sebelum-sebelumnya. Sungguh beruntung. Kelas saya terdiri dari 2 orang Indonesia, 1 orang Mongol, 1 orang Korea, 1 orang Mesir, 10 orang Jepang, dan 9 orang cina. Dari semua itu, 8 orang adalah perempuan.
Hal paling menakjubkan dari perantau dan menjadi minoritas adalah, ketika saya bertemu orang Indonesia entah kenapa saya merasa sangat bahagia, seperti bertemu sahabat lama. Dan kami akan cepat akrab layaknya keluarga. Kami pun bisa langsung tahu dengan sekali tatap mata, bahwa kami dari tanah air yang sama. Ini sungguh perasaan yang sangat menakjubkan dan baru bagi saya.
Ya, itu cuplikan beberapa kisah dan pengalaman saya di awal adaptasi di negeri ini.
Salam,
Mitzi Alia.
Subscribe to:
Posts (Atom)

