Showing posts with label institut teknologi bandung. Show all posts
Showing posts with label institut teknologi bandung. Show all posts

Sunday, September 13, 2015

Going Home

Well it's been a long long long time, isn't it?

Yah, saya memang lagi pulang ke Indonesia. Duh sebenarnya malu juga ya, baru aja 5 bulan disana, masa sudah pulang. Saya memang tak ada niat pulang kok.  帰るつもりはないよ。Tapi waktu itu tiba-tiba diajak senpai untuk ikut acara volunteer program tentang disaster prevention di Jogja. Awalnya saya sempat ragu juga, ikut apa ngga. Kalau saya ikut berarti saya harus pulang kan, masa ke Indonesia tapi ga pulang sih. Akhirnya setelah diskusi sama orang tua, yah saya memutuskan untuk pulang. Jadilah saya pulang sekarang!
Oleh-oleh Tokyo Banana saya beli di bandara
Pemandangan dari bandara

Friday, May 29, 2015

Teman

Seperti hal yang tidak penting, tapi mungkin penting untuk kalian yang ingin tau apa rasanya jadi perantau di negeri orang. Mungkin tidak semua orang berpikiran sama, ada aja yang tidak setuju dengan ini, tapi ini hanya catatan saya, apa yang saya rasakan selama di sini. Mungkin saya terlalu sensitif dan berlebihan bagi kalian, tapi tidak ada tambahan apapun dari tulisan saya.

Saya ingin sedikit berbagi rasa. Mungkin para perantau di negeri orang telah merasakan hal ini berkali-kali, dan saya sebagai pendatang baru, entah kenapa harus merasakan ini di saat yang tidak tepat. Saya tau bentar lagi midterm exam akan datang, bahkan tugas-tugas mulai semakin sulit. Tapi justru ini lah yang sangat mengganggu saya. Entah sudah keberapa kali saya merasakan kehampaan, kesepian, kebosanan dari kehidupan saya ini. Kupu-kupu, mungkin kata-kata yang tepat. Memang saya tak punya waktu untuk santai, tapi akhir-akhir ini saya kehilangan gairah untuk belajar. Awalnya saya pikir saya jenuh, tapi saya sadari bukan itu penyebabnya.

Saya hanya butuh teman.

Teman yang tidak hanya sekedar nama, teman yang dulu bisa saya dapatkan semasa di ITB, teman seperjuangan, teman yang bisa saya ajak diskusi, belajar bersama, main bersama, tertawa bersama, gabut bersama, dan kami bisa saling support dalam masalah kuliah.

Di sini saya tidak memiliki itu. Entah sudah berapa kali saya berusaha mencoba lebih dekat dengan teman-teman internasional saya, tapi tidak bisa. Selalu ada sesuatu yang menjadi penghalang untuk bisa lebih dekat dengan mereka. Saya tidak bermaksud rasis atau sejenisnya, tapi itulah yang saya rasakan. Perbedaan background, adat dan kebiasaan, membuat saya harus lebih banyak 'memaklumi' dan tidak bisa menjadi diri saya yang sebenarnya, saya yang harus beradaptasi. Ini membuat saya frustasi. Di samping saya butuh teman untuk mendukung saya dalam akademik, saya juga butuh teman sepemikiran, dan sejalan dengan keinginan saya untuk bisa menggali potensi saya.

Ini yang tidak saya dapatkan di sini. Teman. Bukan hanya teman dalam arti harfiah, tapi arti 'teman' sesungguhnya, secara batin.

Akhir-akhir ini saya sering sekali stuck dengan tugas, dan membuat saya frustasi karena tidak tau harus minta bantuan pada siapa. Memang ada teman sekelas saya yang dari indonesia juga, tapi dia berbeda dengan saya, saya tidak bisa seutuhnya menjadi diri saya. Dia bisa belajar dengan sendiri, sementara saya tidak. Saya juga tidak bisa terus-terusan bergantung dengannya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan teman, dekat dengan mereka, tidak seperti saya. Dia memiliki wawasan luas, tidak seperti saya. Saya hanya gadis kikuk yang sulit sekali untuk mendapatkan teman di awal permulaan. Tapi saya sadar bahwa saya bukan tipe orang yang bisa hidup tanpa teman, bukan tipe orang yang suka menyendiri dan bisa menyelesaikan semua masalah sendiri. Saya butuh teman, tapi saya menyerah untuk mendapatkannya. Kontradiksi sekali.

Saya juga sempat berharap banyak dengan PPI daerah Kyoto, berharap bahwa mereka bisa menjadi keluarga saya yang baru, yang bisa dekat dengan saya secara batin, dan membantu saya untuk menjadi diri saya sendiri. Tapi kenyataan tidak semanis itu, tidak seperti di film-film bahwa kehidupan itu indah. Sosialisasi sungguhlah tidak semudah apa yang kau pikirkan.

Tidak semua warga Indonesia di daerah Kyoto tergabung dan aktif dalam PPI, yah mungkin ini hal wajar saja. Tapi banyak dari mereka yang memang benar-benar ke Jepang untuk menghindari orang Indonesia, mereka tak lagi mau berteman dengan orang Indonesia. Hal ini membuat saya terkejut. Setelah bergabung pun, ternyata apa yang saya rasakan tidaklah sehangat yang saya bayangkan. Tidak ada kedekatan secara batin. Mungkin karena saya masih terlalu muda, dan kebanyakan anggota PPI adalah orang dewasa yang sudah berkeluarga atau setidaknya dalam master degree. Ini semakin menyulitkan saya untuk mendapatkan teman seperjuangan yang saya inginkan.


Ini saat acara kumpul PPI Kyoto
Ini 'teman' seperjuangan saya
Saya pikir, bukankah kita minoritas? Seharusnya, kita secara tidak langsung akan merasa ingin bergantung dengan minoritas yang lain bukan? Ingin saling berbagi perjuangan dengan sesama minoritas bukan? Tapi kenapa saya tidak merasakan kekeluargaan yang erat di dalamnya? Apa yang salah?

Bahkan saat PPI Kyoto hendak mengadakan acara budaya Indonesia pun, hanya sedikit sekali yang berpartisipasi, menolak dengan berbagai alasan. Bukankah ini kesempatan yang tepat untuk saling mengenal sesama orang Indonesia? Tidakkah kau malu nanti jika berpapasan dengan orang Indonesia saat sedang bersama teman non-Indonesia, tapi sebagai sesama Indonesia, kalian tidak saling sapa?

Mungkin ada beberapa kalian yang berpikiran ini hal yang terlalu berlebihan untuk dipikirkan, tapi tolonglah, sebagai sesama warga minoritas, saya hanya ingin kita lebih dekat, karena kita memiliki beban dan perjuangan yang sama.

Saya merasakan kehangatan dan kekeluargaan yang mendalam selama di ITB yaitu di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kebudayaan Banten, atau biasa disebut Debust. Kebanyakan anggotanya adalah yang berasal dari Banten, entah kenapa saya merasakan ikatan yang kuat di antara kami, bahkan pada kakak tingkat, sudah seperti sodara dan adek kakak. Sampai sekarang pun, merekalah yang menjadi warna hidup saya, meski hanya sebatas kontak dunia maya. Mereka yang selalu membuat saya kangen akan Indonesia, selain keluarga saya sendiri. Inilah yang saya harapkan pada awalnya, ketika masuk ke lingkungan PPI Kyoto.

Ini beberapa anggota Debust
Ini saat kami menampilkan tarian dari Banten
Tim penari saya
Ini saat acara perpisahan kejutan
Perpisahan ini untuk melepas saya yang pindah ke Jepang
Tidak semua dari mereka seangkatan dengan saya
Tapi, inilah keadaannya, saya lagi-lagi harus 'beradaptasi' untuk survive di sini. Semoga saya masih tetap bisa mempertahankan kepribadian asli saya, meski harus menahan diri selama 4 tahun di sini.

Salam,
Mitzi Alia.

Saturday, April 11, 2015

‘mantan’ Mahasiswi ITB

Pagi!

Mungkin kalian berpikir, kok mantan? Apakah saya DO? Tidak, tidak, saya keluar ITB dengan hormat. Surat keputusan rektor menunjukan bahwa beliau mengeluarkan saya dengan hormat atas pilihan saya untuk mengundurkan diri dari ITB. Ya, saya mengundurkan diri dari ITB, kampus yang katanya terbaik di tanah air ini.


Apa? Mungkin ada yang kesal dengan keputusan saya. Wajar, mungkin salah satu dari kalian yang ingin masuk kampus ini pasti merasa geram. Tapi tentu saja saya punya alasan atas pengunduran diri itu. Seperti yang saya katakan, bahwa saya lulus di Kyodai, sehingga saya memutuskan untuk meninggalkan ITB.

Lalu? Ya, sebagai alumni ITB yang pernah mengalami perkuliahan di ITB, saya akan sedikit sharing tentang kuliah di ITB.

Bagaimana? ITB mudah? Sulitkah? Ya, banyak yang bilang ITB itu susah masuk, susah pula keluar. Mungkin itu tidak sepenuhnya salah. Tidak, saya tidak bermaksud menakuti kalian, ini hanya berdasarkan pengalaman saya. Bagaimanapun saya masih bangga dengan almamater itu, sebutan alumni ITB masih saya sukai.


Memang, sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia, yang berisikan mahasiswa terbaik bangsa, sudah sepantasnya tidak mudah ditaklukan. Tidak seperti kampus lain, ITB memisahkan tahun pertama bagi para mahasiswa untuk kembali mengasah kemampuan SMA mereka. Barulah pada tahun kedua, mereka bisa memilih jurusan. Sistem di ITB mengharuskan kita untuk memasuki fakultas terlebih dahulu, bukan tertuju langsung pada jurusan. Ada 13 fakultas di ITB, yaitu:

  1. FTI (Fakultas Teknologi Industri)
  2. STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika)
  3. FTTM (Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan)
  4. FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara)
  5. FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan)
  6. SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan)
  7. FITB (Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian)
  8. FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
  9. SF (Sekolah Farmasi)
  10. SITH-S (Sekolah Ilmu Teknologi Hayati-Sains)
  11. SITH-R (Sekolah Ilmu Teknologi Hayati-Rekayasa)
  12. FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain)
  13. SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen)

Yap, untuk informasi tentang masing-masing fakultas bisa dicari tahu lebih lanjut di web ITB.

Kuliah tahun pertama, banyak yang mengeluh tahun pertama itu sibuk lalala. Padahal kakak tingkat bilang, TPB itu singkatan dari Tahun Paling Bahagia, yang sebenarnya adalah Tahap Persiapan Bersama. Karena TPB cenderung lebih santai daripada penjurusan. Memang tidak salah. Saya yang belum melewati penjurusan pun tahu bagaimana sibuknya setelah penjurusan.

Mata kuliah yang dijalani selama di ITB tidak beda jauh dengan SMA, banyak yang bilang TPB itu seperti SMA kelas 4. Memang judul matkulnya tidak beda dengan yang di SMA, tapi materi yang dipelajari SUNGGUH BERBEDA dibandingkan saat SMA. Mereka yaitu kalkulus, fisika dasar, kimia dasar, bahasa inggris, olahraga, TTKI (Tata Tulis Karya Ilmiah), PTI (Pengenalan Teknologi dan Informasi), PRD (Pengantar Rekayasa dan Desain), dan pengantar untuk masing-masing fakultas. Beberapa fakultas juga ada mata kuliah gamtek atau gambar teknik.

Lalu apa bedanya dengan SMA? Kalkulus, fisika dasar dan kimia dasar yang dipelajari memang seperti mengulang materi SMA, tapi tentunya lebih konseptual, mendalam dan meluas. Di ITB, 3 matkul utama ini dibagi menjadi A dan B. Tentunya A lebih sulit dibandingkan B. Jika kimia A mendapatkan praktikum, kimia B tidak mendapatkan praktikum, hanya itu perbedaan di kimia A dan B, selebihnya materinya sama. Fisika A dan B sangat berbeda, fisika A jauh lebih susah dibandingkan fisika B, dan keduanya sama-sama mendapatkan praktikum.

Mata kuliah bahasa inggris dibagi ke dalam 3 kelas, Critical Reading, Writing, dan Presentation. Kita akan melalui placement test untuk mendapatkan salah satu kelas tersebut.

Olahraga? Mungkin dari kalian ada yang heran mengapa ada matkul olahraga. Sebenarnya saya pun heran, tapi bagi saya matkul ini hanya sebagai penggembira dan agar tetap menjaga kebugaran saya, meski olahraga yang dijalani cukup berat.

TTKI tidak jauh beda dengan bahasa Indonesia, kita mempelajari berbagai macam tata cara penulisan yang benar. Matkul yang cukup memusingkan tapi menambah wawasan.

PTI pun dibagi ke dalam A dan B. PTI A adalah matkul yang mempelajari microsoft word, excel dan presentation, sementara PTI B yang mempelajari bahasa pemograman menggunakan C++. 

Pengantar Rekayasa dan Desain, setiap fakultas berbeda mengenai apa yang dibahas, sesuai dengan kebutuhan setiap fakultas. Yang terakhir pengantar untuk masing-masing fakultas adalah sebagai pengenalan TPB untuk mengetahui apa yang akan dihadapi di setiap jurusan yang ada di fakultas tersebut.

Mungkin banyak dari kalian yang berpendapat TPB hanya buang-buang waktu, seharusnya kuliah adalah saatnya fokus dengan jurusan. Memang itu tak sepenuhnya salah, tapi dosen kalkulus saya, salah satu dosen lama di ITB, berkata bahwa TPB adalah masa yang sangat penting untuk kembali mengasah logika, cara pikir, dan pemahaman konseptual. ITB harus menghasilkan mahasiswa yang bisa berpikir secara meluas, cepat dan tepat. Karena itulah pengasahan semacam ini diperlukan demi menghasilkan bangsa yang diharapkan. Saya sangat setuju degan hal ini. Masa TPB juga sebagai uji kepantasan diri, mengukur diri apakah kita pantas di kampus ini, dan juga sebagai sarana menjaga rendah hati, karena di atas langit masih ada langit. Bisa saja kita merasa kita yang terhebat saat SMA, namun dengan masuk ITB kita akan sadar bahwa orang yang jauh lebih jenius dari kita bertaburan di kampus itu. Saya pun termasuk orang yang masih mengagumi anak-anak ITB yang memiliki otak cemerlang, saya sangat salut sebab banyak sekali yang sangat pintar, hingga saya tidak tahu lagi harus berkata apa kecuali berdecak kagum.

Selain masalah perkuliahan, tentunya pertemanan juga sangat penting. Ya, terutama di ITB, memiliki banyak link atau pertemanan sangatlah penting. Masa TPB ini juga sebagai sarana untuk memperbanyak teman, wawasan dan kenalan, baik itu dari angkatan sendiri atau dari angkatan di atas kita. Bagaimana caranya? Ikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan kepanitiaan secara aktif. Akan lebih mudah bagi TPB untuk aktif di unit dan panitia karena kecendrungan waktu kosong yang lebih banyak dibandingkan saat jurusan. Selain itu, untuk menghafal teman seangkatan pun akan lebih mudah karena gedung dan ruangan yang digunakan TPB sama untuk setiap fakultas. Sehingga kita akan sering bertemu teman dari fakultas yang berbeda. Lain halnya saat jurusan yang hanya menggunakan 1 gedung, sehingga kita akan sulit untuk bertemu teman dari jurusan lain.

Ini lokasi beberapa unit berkumpul, biasa disebut 'sunken'
Dengan mengikuti unit, kita akan mendapatkan relasi dan pertemanan. Namun biasanya setiap unit dan kepanitian memiliki kaderisasi. Jika kita lulus kaderisasi tersbut, maka kita akan dilantik menjadi anggota dari unit tersebut. Jika tidak, maka kita akan dikeluarkan. Memang sedikit merepotkan, jenis kaderisasi tiap unit pun berbeda-beda tergantung jenis unit yang kita ikuti. Tapi tentunya semua itu akan tidak sebanding nilainya bila kita berhasil bergabung ke dalam unit tersebut.

Itulah beberapa informasi mengenai ITB, berikutnya mungkin akan saya posting mengenai Jepang lagi.

Salam,
Mitzi Alia.