Showing posts with label jepang. Show all posts
Showing posts with label jepang. Show all posts

Wednesday, March 23, 2016

Tokyo (again)

Oh, sepertinya blog ini masih hidup.
Ohisashiburi!

Aw, sepertinya saya selalu melontarkan kalimat itu ya. Memang akhir-akhir ini saya agak malas enggan untuk menulis panjang lebar. Hidoi desune. Ya, apa boleh buat kan.

Ada banyak cerita selama liburan ini, mungkin akan saya pisah-pisah saja supaya lebih jelas judulnya ya. Oke, Tokyo? HELL YES. Saya sempat ke Tokyo lagi waktu februari kemarin. Kenapa? Well, ada sesuatu yang mengharuskan saya kesana. Om saya datang ke Jepang, lebih tepatnya ke Hamamatsu. Saat itu, saya memang niat berkunjung kesana biar bisa ketemu. Tapi kemudian ada berita mendadak yang menharuskan saya pergi ke Haneda Airport. Karena schedule yang padat dari om saya, akhirnya saya lah yang dikirim untuk mengantar seseorang kenalan om saya ke Haneda. Ongkosnya juga dibayarkan. Berhubung Haneda dan Tokyo cukup dekat, akhirnya saya ya sekalian jalan-jalan lah ke Tokyo. 

Thursday, October 1, 2015

College Finally Starts

Hallo!

Yah hari ini hari pertama kuliah. Baru saja hari pertama tapi saya sudah mendapatkan tugas buat minggu depan. Yeah, that's Kyoto University for ya.

Anyway, berhubung sudah mulai kuliah, sepertinya kehidupan saya mulai kembali sibuk, dan saya harap bisa menjaga fisik saya supaya kuat. Sudah lama sekali sejak saya melatih fisik saya di Jepang, yah kira-kira 5 minggu di Indonesia saya sama sekali tak melakukan kegiatan fisik yang berat, alhasil saat saya kembali ke kehidupan kampus, saya jadi cepat lelah.

Sebenarnya semester ini cenderung lebih sedikit matkulnya, saya jadi berkeinginan untuk mengikuti salah satu klub di Kyodai, yaitu Art Club. Terdengar menyenangkan karena mereka hanya ngumpul dan melakukan sketsa. Meski begitu, jika suatu saat klub ini mengganggu jadwal belajar saya ya tentu saja saya akan berhenti.

Selain itu, asrama saya mulai kedatangan orang-orang baru yang exchange di Kyodai. Jadi banyak muka-muka baru di sini. Tapi yah, orang tipe seperti saya yang kurang suka dengan sosialisasi sih acuh tak acuh menghadapi mereka.

Welcome party pun mulai diadakan, seperti di PPI, dan juga asrama saya. Lumayan deh dapat makanan gratis haha.

Memasuki musim gugur, suhu di sini mulai turun dengan cepat. Bahkan sekarang pun meski baru awal musim gugur, sudah mencapa 18 derajat celcius. Udara dingin kadang terasa menusuk kalau saya sedang naik sepeda. Mungkin saat musim dingin nanti, saya tak bisa memaksakan diri untuk naik sepeda ke kampus. Karena jujur saja, saya lebih tahan panas daripada dingin.

Yah, sudah saatnya kembali fokus pada apa yang harus saya kerjakan.

Salam,
Mitzi Alia

Thursday, September 24, 2015

KiDS

Konbanwa!

Sebelumnya, selamat hari raya Idul Adha! Alhamdulillah Idul Adha bisa saya rayakan bersama keluarga di rumah.

Nah berhubungan dengan judul kali ini, KiDS yang saya maksudkan bukan dalam arti "anak-anak", tapi singkatan dari Kyoto University Disaster Prevention School. Nah inilah acara yang saya jalani selama di Jogjakarta. Baru saja kemarin saya kembali dari Jogja setelah menyelesaikan misi yang dibebankan pada 5 orang Indonesia (termasuk saya) dan 5 orang Jepang itu.

Lalu, apasih KiDS ini? Ya, secara kasarnya sih program ini mirip dengan penyuluhan tentang bencana alam ke berbagai SD yang ada kemungkinan rawan bencana. Pendidikan kaya gini sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak sejak dini supaya tingkat kesadaran mereka meningkat dan bisa mengurangi korban yang mungkin berjatuhan jika bencana tersebut datang. Inilah tujuan utama KiDS.

Selain mengunjungi SD untuk penyuluhan, kami juga mengunjungi badan atau organisasi yang bekerja di bidang pengamatan dan mitigasi bencana alam, seperti BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan PSBS UGM (Pusat Studi Bencana Alam UGM). 

Monday, August 17, 2015

Summer Holiday

Wah sebelumnya, selamat ulang tahun buat Indonesia! Yah, ga ada apa-apa di sini, saya sampai lupa kalau hari ini 17 Agustus. Yare yare. Kalau tak salah sih ada upacara di konjen, tapi saya tak ikut sih soalnya seharian ini hujan juga.

Nah berikutnya, saya akan sedikit berbagi cerita tentang liburan summer ini, dan apa saja yang saya lakukan. Hm, sebenarnya bukan hal yang besar sih, karena saya hanya berkeliling di Kyoto dan Osaka. Saya ke Osaka 2 kali, hari senin kemarin, dan hari rabu-nya. Hari senin saya hanya ke daerah Denden Town, sebenarnya ini cuma daerah pertokoan elektronik biasa sih dari luar, tapi ternyata lokasi ini kaya Akihabara-nya Osaka gitu. Kebetulan saya penasaran, jadi saya pergi ke sana bersama Senpaichan. Kami berangkat dari Kyoto jam 8 pagi, niat sekali ya? Haha, tentulah ini hobi saya sih ya. Ternyata cukup mudah juga ke lokasi, cuma naik JR sekali, terus naik subway. Bisa dibilang Kyoto-Osaka itu kaya Jakarta-Bandung, tapi ongkos yang saya habiskan bolak balik cuma sekitar Rp100k, padahal kalau Jakarta-Bandung sekali jalan saja lebih dari itu ya. Yah kami banyak berkeliling tentunya, saya rasa saya sampai hapal lokasi-lokasi toko yang cukup bagus haha. Animate, K-Books, dan Kotobukiya pun ada. Seperti surga... Yah surga sederhana ya bagi saya.

Friday, August 14, 2015

Katsura Campus Visit

Doumo,

Sudah hampir seminggu, yah sebenarnya saya tak sibuk belajar atau urusan kuliah. Tentu saja, sudah saatnya liburan musim panas! Ya, beberapa hari ini saya lalui dengan jalan-jalan ke berbagai tempat, makanya baru sempat posting lagi. Yap, その話はあとで、今京都大学を話しましょうか。

Katsura Campus, jadi Kyodai itu punya 3 kampus utama, Yoshida, Katsura dan Uji. Sebenarnya 3 nama itu diambil dari lokasinya sih, Yoshida Campus berarti di Yoshida, Katsura Campus berarti di Katsura, dan Uji Campus berarti di Uji. Nah, kampus utama dari engineering itu di Katsura, berarti banyak lab-lab untuk tahun ke 4 yang lokasinya di Katsura. Makanya banyak senpai yang bolak-balik Yoshida-Katsura pas tahun ke 4. 

Nah, minggu lalu, 5 agustus 2015, kami mahasiswa Kyodai dari fakultas engineering difasilitasi campus visit dan berkunjung ke Katsura untuk melihat lab-lab yang keren itu. Lumayan jauh yah dari Yoshida, sekitar 40 menit naik bus. Dan bus nya pun sudah disediakan oleh pihak kampus. Siang hari kami berkumpul, sekitar pukul 1 siang, lalu langsung menuju Katsura. 

Saturday, August 8, 2015

Inter-High Basketball

Dear all,

Akhir-akhir ini saya bisa sering post, oh tentulah, liburan musim panas sudah dimulai, dan banyak kegiatan yang saya lalui. Makanya saya bisa bercerita macam-macam. Oke berkaitan judul kali ini, saya akan sedikit membahas Inter-high. Wah apa itu Inter-high? Ini adalah acara tahunan yang diselenggarakan Jepang, kompetisi nasional lebih tepatnya, antar seluruh SMA di Jepang. Kompetisi ini hanya untuk kompetisi olah raga saja.

Inter-high diselenggarakan selama musim panas, sementara kompetisi olahraga lain yang diselenggarakan musim dingin bernama Winter Cup. Nah, sebenarnya cabang olahraga yang dikompetisikan banyak sekali, tapi berhubung yang saya sukai hanya basket, jadilah saya membahas tentang basket. Inter-high basket ini dimulai dari tanggal 29 Juli dan berakhir tanggal 3 Agustus kemarin. Tanggal 29 Juli hingga 2 Agustus adalah babak penyisihan hingga semi final, nah finalnya yaitu tanggal 3 Agustus.

Karena saya tidak punya banyak waktu untuk mengikuti dari awal, dan saya tak punya sumber orang untuk mengetahui letak dan waktu tiap pertandingan selama penyisihan hingga semi final, akhirnya saya hanya menonton saat pertandingan final.

Tuesday, August 4, 2015

Visiting Hamamatsu

Hi!

Semakin kesini, semakin saya bisa merasakan liburan musim panas, ya, KYOTO SEMAKIN PANAS. Dan saya rasa bisa meleleh kalau keluar. Sempat waktu itu suhu mencapai 38 derajat, dan real feel udaranya mencapau 45 derajat. Ternyata Kyoto emang kota paling panas kalau pas summer katanya. Sepanas itu pun, belum puncaknya. Biasanya akhir agustus barulah puncaknya. OH TIDAK. Saya tidak bisa membayangkan betapa panasnya.

Oke, tentang kali ini, saya akan bercerita perjalanan bolak-balik saya Kyoto-Hamamatsu. Bukan karena Hamamatsu adalah tempat spesial dan semacamnya sih, justru tidak ada apa-apa yang unik di situ. Boleh dibilang, sisi desa Jepang ya. Sepi banget, cuma ramai di sekitar stasiun aja. Terus kenapa saya ke sana?

Jadi ceritanya adik saya ada acara summer school dari Shizuoka University, dan dia nginap di Hamamatsu. Makanya saya datang dari Kyoto ke Hamamatsu. Padahal waktu itu saya lagi di tengah minggu-minggu kuliah, yaitu hari selasa, tanggal 21 Juli. Tapi demi adik saya (cie), saya pun rela bolos satu matkul.
Ini di dalem stasiun khusus jalur shinkansen, kaya di airport ya?
Saya berangkat hari selasa sore, sepulang kuliah, bersama teman saya yang kebetulan juga lagi ikut summer program di Jepang. Langsung menuju Stasiun Kyoto dan mengambil Shinkansen ke Hamamatsu. Karena Hamamatsu itu cukup jauh, saya memilih naik shinkansen supaya cepat. Memang mahal sih, tapi ya apa boleh buat juga kan. Naik shinkansen pun, masih memakan waktu 1 setengah jam.
Ini tiket shinkansen, tertera harganya
Ini pertama kalinya saya naik shinkansen, jadi wajarlah ya agak norak dikit. Ternyata memang cepet banget melajunya. Di dalemnya juga nyaman banget, seperti di pesawat, bedanya ga ada seat belt aja. Bahkan petugas yang kaya pramugari di pesawat yang suka bawa 'gerobak' makanan pun ada di shinkanse ini. Kita juga bisa men-charge gadget kita karena disediakan stop kontak di bawah jendela. Nyaman banget lah.
Shinkansen dari luar
Ini bagian dalamnya


Perjalanan tak terasa, cuman berenti di 1 stasiun, yaitu Nagoya, sebelum akhirnya berenti di Hamamatsu. Setelah turun, udah semakin sore, mungkin kisaran maghrib. Lalu saya langsung menuju hotel tempat adik saya menginap. Akhirnya kami pun bertemu, dan banyak ngobrol, juga bersama teman saya itu. Yah sebenernya teman saya ini juga teman adik saya. Dan dia adalah kakak kelas kami berdua, alumni IC, pastinya murid ibu saya. Makanya kami mengenal dia, namanya Kefin. Ya, kami cukup akrab dengannya, jadi kami bisa banyak berbincang saat bertemu.

Berhubung adik saya lagi excited banget, akhirnya kami jalan-jalan keluar meski sudah malam. Kami mencari tempat makan, dan akhirnya sampai di sebuah restoran sushi, Kappa Sushi. Kami menghabiskan banyak waktu di situ, untuk makan hingga kenyang dan ngobrol sampai puas, soalnya saya harus kembali ke Kyoto besoknya. Alhasil kami menghabiskan 29 piring sushi haha, yah lumayan lah buat bertiga sih ga terlalu banyak.
Yak inilah hasil makan malam kita
Inilah wajah puas kami
Ini masih mula makan, belum banyak piring
Setelah puas, kami pun pulang dan tidur karena lelah. Esoknya, saya siap-siap untuk kembali ke Kyoto. Adik saya siap-siap untuk mengikuti acara program yang telah diatur. Sementara kak Kefin juga akan pergi ke Toyama untuk mengunjungi temannya. Dan di sini lah kami berpisah.
Orang Jepang nya salah satu profesor Shizuoka University,
Adik saya yang paling kanan, yang paling kiri itu adik kelas saya
Saya pulang ke Kyoto sendiri. Untungnya saya juga sudah tau cara beli tiket shinkansen, jadinya tak usah khawatir. Tiket shinkansen bisa dibeli di stasiun, seperti loket self-service. Ada pilihan bahasanya, kita tinggal pilih dari stasiun apa, menuju stasiun apa, berapa orang, dan pilih reserved atau un-reserved. Biasanya reserved lebih mahal, dan kita harus menentukan jam. Kalau un-reserved, ga usah nentuin jam, kita tinggal liat jadwal shinkansen yang datang, dan ingat shinkansen jenis mana dan nomor berapa yang berhenti di stasiun tujuan kita. 

Shinkansen ada 3 jenis, Kodama, Hikari dan Nozomi. Berbagai jenis lagi juga ada sih, tapi yang sering diliat itu 3 jenis ini. Kodama yang lebih sering berenti, Hikari ga terlalu banyak berenti, dan Nozomi yang cuma berenti di beberapa stasiun aja. Lebih jelasnya tentang shinkansen bisa diliat di sini.

Yah begitulah perjalanan singkat saya, sekedar mencoba shinkanse haha.
Berikutnya saya akan membahas ramen halal! Tunggu postingan selanjutnya!


Salam,
Mitzi Alia.

Sunday, June 21, 2015

Welcome Party


Halo.

Karena saya sudah lama sekali tidak posting, akhirnya banyak postingan tertunda. Oke kali ini saya akan bercerita sedikit tentang welcome party yang rabu lalu, 17 Juni 2015, saya hadiri.

Pesta ini ditujukan untuk semua international freshmen dan exchange students. Awalnya saya ragu untuk menghadiri acara ini, karena saya pasti beresiko untuk pulang malam naik sepeda. Tapi karena saya sudah mengisi data kehadiran 2 minggu yang lalu, mau tak mau saya harus ikut acara ini.

Dibilang welcome party, tapi saya sudah 2 bulan disini. Mungkin lebih tepat kalau dibilang after midterm party ya, karena minggu lalu saya baru saja menghadapi ujian tengah semester. Dan di saat itulah saya sangat hectic dan 'stress'. Tentu saja stress ya, karena ini adalah ujian pertama saya. Saya sama sekali tak ada bayangan tentang jenis soal, penilaiannya, dan jumlah soal yang akan keluar. Maka dari itulah saya merasa sangat tertekan. Ditambah pula, saya menghadapi 2 UTS sekaligus di hari yang sama, UTS fisika dan UTS algebra. Sangat menjadi beban. Tapi setelah hal itu berlalu, rasanya saya menjadi lebih ringan.

Oke, akhirnya saya pun menghadiri acara welcome party ini. Saya bertemu beberapa orang Indonesia yang biasa saya temui saat acara kumpul PPI Kyoto. Ternyata banyak juga ya orang Indonesia, bahkan ada beberapa yang belum saya kenali. Welcome party ini dimulai ja, 18.30, setelah pembukaan oleh President of Kyoto University. Sungguh kehormatan bagi saya untuk bisa berjumpa dengan President of Kyodai sedekat ini. Tak semua orang mendapat kesempatan langka seperti ini. Dan saya baru sadari, inilah kelebihan dari international students. Kami sangat disambut dan dihormati oleh mereka.
Ini President of Kyoto University

Setelah sambutan-sambutan, kami pun mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum. Kemudian bersama-sama kami bersulang dan berteriak 'Kanpai!'. Cukup ramai dan mewah. Banyak makanan yang dihidangkan, bahkan ada makanan khusus berlabel 'halal'. Wah, sungguh baik sekali pihak Kyodai. Beberapa juga ada makanan khusus vegetarian yang sudah pasti aman untuk kita makan. Makanan Jepang lain juga kebanyakan menggunakan sayur dan ikan mentah seperti tempura, sashimi dan sushi, sehingga kami bisa leluasa untuk memilih makanan. 

Ini hall Welcome Party yang digunakan
Makanan yang dihidangkan
Sembari makan hidangan, kami berkeliling saling berkenalan dengan sesama murid internasional. Kesempatan yang langka untuk saling mengenal. Acara yang bagus untuk kami, sebagai minoritas di sini. 

Selain berbicara dengan orang-orang, pihak Kyodai juga mengadakan pertunjukan kecil, seperti tarian Jepang, nyanyian, dan trik-trik unik (yang saya tak tau apa namanya, mereka hanya memainkan bola dan kotak, seperti sirkus).

Sekitar jam 20.30, pesta pun selesai, dan kami dipersilakan untuk pulang, sebab ruang hall yang dijadikan tempat pesta akan segera dibersihkan dan ditutup. 

Acara yang menarik, sayangnya karena terlalu menikmati acara tersebut, saya tidak terlalu banyak mengambil foto.


Salam,
Mitzi Alia

Saturday, June 20, 2015

Air

Hisashiburi ne.

Sudah lama sekali sejak saya terakhit kali post ya, sekitar 3 minggu yang lalu. Yah, bukannya saya tidak mau ngurus blog ini lagi, tapi memang saya lagi tidak banyak ide untuk diceritakan. Mungkin ide itu banyak, hanya saja saya tidak punya cukup banyak waktu untuk menulis.

Sebelumnya saya pernah membahas tentang sungai bukan? Nah kali ini saya akan membahas sistem air di Jepang. Mungkin saya hanya mengambil contoh dari Kyoto yang saya tahu, tapi daerah lain juga tidak banyak berbeda.

Sumber air di Kyoto yaitu berasal dari sebuah danau besar, namanya danau Biwa (琵琶湖; Biwako). Danau ini, saya pikir sama besarnya dengan danau Toba yang ada di Sumatera Utara, ternyata lebih besar dari itu. 
Ini Biwako dari atas
Danau ini merupakan danau tempat sumber air murni untuk daerah Kansai. Karena itu keberadaan dan kebersihan danau ini sangat penting untuk orang Kyoto, karena danau ini adalah sumber kehidupan mereka. 


Terbayang seberapa besarnya?
Air dari danau ini dialiri menuju rumah-rumah melewati kanal-kanal terbuka. Tidak di bawah tanah. Mungkin kalian tidak akan terbayang bahwa aliran kanal ini akan tetap bersih hingga sampai ke rumah warga. Karena siapapun bisa melihat aliran air itu dan bisa 'membuang' sampah ke dalamnya. Well, itu kalau kita masih berpikiran kita di Indonesia. Sayangnya ini di Jepang, hal semacam itu takan pernah terjadi.

Ini salah satu kanal dari Biwako
Kanal-kanal yang berasal dari danau ini terus mengalir, dari kanal besar yang terbuka hingga kanal kecil yang memiliki filter menuju rumah-rumah warga. Tidak seperti di Indonesia yang kita harus membeli air bersih per galon, Jepang menggunakan aliran semacam ini untuk mendistribusikan air bersih. Sehingga setiap air yang mengalir di rumah itu adalah air bersih. Kita bebas minumm melalui keran yang ada di rumah. Dan bagi saya ini juga sangat efektif dalam pendistribusian air. 

Danau ini sudah terkenal dari jaman dulu di Jepang. Orang Jepang terus menjaga kebersihan danau ini karena mereka sangat sadar bahwa tanpa danau ini, mereka taakan bisa minum air bersih. Selain hal ini, hal yang membuat saya kagum yaitu bahwa orang Jepang dari dahulu telah memikirkan hal semacam ini. Saat Indonesia masih sibuk dengan kekuasaan, penjajahan, dan hal lain, pemerintah Jepang telah membangun sistem pendistribusian semacam ini, untuk keberlangsungan perkembangan Jepang di masa yang akan datang.

Inilah kelebihan Jepang, bahwa mereka menyusun strategi pembanghunan demi menjaga keberlangsungan negara mereka. Pikiran mereka sangat maju dan melihat ke depan. Ini lah hal yang belum kita, sebagai warga Indonesia, miliki.

Saya sendiri juga meskipun jurusan teknik, mengambil mata kuliah 'sustainable development' yaitu yang mempelajari cara untuk mempertahankan perkembangan suatu strategi. Misalnya mempertahankan kelangsungan negara, kelangsungan pemerintahan, kelangsungan air, kelangsungan ekonomi, kelangsungan sosial, dan lain-lain.


Dan, saya berharap, tulisan saya ini bisa menjadi baku tembak bagi kalian, warga Indonesia, yang masih hanya mekikirkan diri sendiri. Sudah saatnya kalian melihat ke depan, melihat kelangsungan masa depan generasi kalian berikutnya jika kalian masih ingin melihat negeri tercinta kita ini berdiri dengan independen.



Salam,
Mitzi Alia



Sunday, May 31, 2015

Sungai

Konbanwa.

Tumben saya post malem-malem ya, yah, tidak apalah, mumpung saya lagi mengerjakan tugas yang berhubungan dengan 'sungai' saya akan sedikit membahas sungai di Jepang. Hampir semua sungai di Jepang mirip sih, jadi saya hanya akan membahas satu sungai yang cukup terkenal di Kyoto, yaitu Kamo-gawa.

Minggu lalu saya baru saja field observation dalam mata kuliah 'Introduction to Global Engineering'. Mata kuliah ini seperti mengenalkan submajor di dalam jurusan saya, yaitu Civil Engineering. Kebetulan dalam kelas kali ini, saya mendapatkan kelas urban and landscape design dan kita pun menganalisa landscape dari sungai besar di Kyoto, untuk mengetahui elemen-elemen yang berpengaruh di sekitar sungai tersebut. 

Ini Kamogawa dari satu sudut, bisa liat Gunung Daimonji
di belakangnya
Ini persimbangan Kamo-gawa, di dekat stasiun Demachiyanagi
Kamo-gawa dari bagian atas
Selama field observation ini, saya banyak mendapat informasi mengenai sungai-sungai di Jepang, terutama Kamo-gawa. Ternyata memang, Jepang sudah lebih dulu maju dari Indonesia. Mengapa? Menurut cerita yang saya dengar dari Profesor saya, Jepang telah memulai industrialisasi sejak tahu 1890, dan di saat itu, banyak sekali industri-industri yang memanfaatkan sungai sebagai limbah pembuangan. Sadar akan hal tersebut yang salah, bahwa air adalah sumber kehidupan mereka, 20 tahun kemudian akhirnya mereka memulai memindahkan industri ke daerah pinggir kota dan membuat regulasi yang sangat ketat mengenai pembuangan limbah pabrik mereka. Yang membuat saya terkejut, mereka juga mengadakan kegiatan volunteer untuk membersihkan sungai yang telah terkontaminasi. Saya penasaran apa yang mereka lakukan untuk mengatasi sungai terkontaminasi itu, tapi profesor tidak memberitau lebih lanjut mengenai hal itu, dan juga sepertinya agak sulit baginya untuk menjelaskan dalam bahasa inggris. Kegiatan sukarelawan untuk membersihkan sungai itu juga masih berlangsung samapai sekarang. Tak heran sungai di Jepang sangatlah bersih dan indah. 

Tumbuhan sengaja dibiarkan tumbuh untuk menjadi
tempat tinggal ikan ikan kecil
Di Indonesia, tak akan terpikirkan oleh saya untuk main air di sungai, karena sungai di Indonesia berwarna coklat. Tentunya tidak ada yang mau mandi atau bermain di sungai seperti itu. Di saat yang sama juga, saya sadar bahwa di waktu Jepang menyadari pentingnya sungai, Indonesia justru baru memulai industrialisasi dan membuang sampah juga limbah di sungai. Sungguh ironi. 

Sungai yang telah dibersihkan itu juga tidak hanya dibiarkan alami, tapi dibangun sedemikian rupa sehingga warga tertarik untuk menghabiskan waktu di pinggir sungai, untuk piknik, sekedar berjemur, atau lari dan bersepeda di sepanjang aliran sungai. Sistem undakan, aliran pembuangan air dan shotcrete juga diaplikasikan dengan baik di sungai. Jembatan-jembatan dibangun dengan struktur yang baik (lain kali saya akan membahas tentang jembatan, karena Jepang juga sangat terkenal dengan jembatan yang kokoh).

Ini shotcrete yang diaplikasikan di pinggir sungai
Ini jembatan antar jalan, di bawahnya ada jalanan sepanjang
aliran sungai untuk jogging atau berseda
Undakan air untuk megurangi kecepatan aliran air
Kamo-gawa juga sebagai tempat rekreasi
Beberapa anak yang bermain di Kamo-gawa
Bersama teman sekelas, kami berdiskusi mengenai sungai-sungai yang ada di negara masing-masing. Saya merasa, mengikuti kuliah di luar negeri memang sangat menguntungkan, meski berat. Wawasan saya bertambah sangat pesat. Selain karena saya adalah foreigner, mata kuliah di kelas saya dan teman internasional mendukung saya untuk semakin berpikiran meluas. Tidak seperti di Indonesia, saya tidak akan bisa mendapatkan pengetahuan seperti ini. 

Teman-teman saya melakukan observasi
Yah sempet juga lahya ambil foto
Mata kuliah saya juga sangat beragam, kebanyakan yang 'mendokusai' itu malah menambah wawasan saya, yah memang karena sulit dan berat itulah jadinya saya harus melakukan berbagai pencarian, penelitian dan analisa. Seperti saat saya melakukan tugas mengenai kelas struktur dan kelas geomekanik, yang mengharuskan saya membaca berbagai jenis paper dan menganalisa sendiri cara kerja masing-masing sistem atau struktur. Sungguh ini ngerepotin banget, tapi setelahnya, saya jadi tau tentang hal itu, dan membuat saya memiliki wawasan lebih luas. Yah, memang semua akan indah pada saatnya.


Salam,
Mitzi Alia

Friday, May 29, 2015

Teman

Seperti hal yang tidak penting, tapi mungkin penting untuk kalian yang ingin tau apa rasanya jadi perantau di negeri orang. Mungkin tidak semua orang berpikiran sama, ada aja yang tidak setuju dengan ini, tapi ini hanya catatan saya, apa yang saya rasakan selama di sini. Mungkin saya terlalu sensitif dan berlebihan bagi kalian, tapi tidak ada tambahan apapun dari tulisan saya.

Saya ingin sedikit berbagi rasa. Mungkin para perantau di negeri orang telah merasakan hal ini berkali-kali, dan saya sebagai pendatang baru, entah kenapa harus merasakan ini di saat yang tidak tepat. Saya tau bentar lagi midterm exam akan datang, bahkan tugas-tugas mulai semakin sulit. Tapi justru ini lah yang sangat mengganggu saya. Entah sudah keberapa kali saya merasakan kehampaan, kesepian, kebosanan dari kehidupan saya ini. Kupu-kupu, mungkin kata-kata yang tepat. Memang saya tak punya waktu untuk santai, tapi akhir-akhir ini saya kehilangan gairah untuk belajar. Awalnya saya pikir saya jenuh, tapi saya sadari bukan itu penyebabnya.

Saya hanya butuh teman.

Teman yang tidak hanya sekedar nama, teman yang dulu bisa saya dapatkan semasa di ITB, teman seperjuangan, teman yang bisa saya ajak diskusi, belajar bersama, main bersama, tertawa bersama, gabut bersama, dan kami bisa saling support dalam masalah kuliah.

Di sini saya tidak memiliki itu. Entah sudah berapa kali saya berusaha mencoba lebih dekat dengan teman-teman internasional saya, tapi tidak bisa. Selalu ada sesuatu yang menjadi penghalang untuk bisa lebih dekat dengan mereka. Saya tidak bermaksud rasis atau sejenisnya, tapi itulah yang saya rasakan. Perbedaan background, adat dan kebiasaan, membuat saya harus lebih banyak 'memaklumi' dan tidak bisa menjadi diri saya yang sebenarnya, saya yang harus beradaptasi. Ini membuat saya frustasi. Di samping saya butuh teman untuk mendukung saya dalam akademik, saya juga butuh teman sepemikiran, dan sejalan dengan keinginan saya untuk bisa menggali potensi saya.

Ini yang tidak saya dapatkan di sini. Teman. Bukan hanya teman dalam arti harfiah, tapi arti 'teman' sesungguhnya, secara batin.

Akhir-akhir ini saya sering sekali stuck dengan tugas, dan membuat saya frustasi karena tidak tau harus minta bantuan pada siapa. Memang ada teman sekelas saya yang dari indonesia juga, tapi dia berbeda dengan saya, saya tidak bisa seutuhnya menjadi diri saya. Dia bisa belajar dengan sendiri, sementara saya tidak. Saya juga tidak bisa terus-terusan bergantung dengannya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan teman, dekat dengan mereka, tidak seperti saya. Dia memiliki wawasan luas, tidak seperti saya. Saya hanya gadis kikuk yang sulit sekali untuk mendapatkan teman di awal permulaan. Tapi saya sadar bahwa saya bukan tipe orang yang bisa hidup tanpa teman, bukan tipe orang yang suka menyendiri dan bisa menyelesaikan semua masalah sendiri. Saya butuh teman, tapi saya menyerah untuk mendapatkannya. Kontradiksi sekali.

Saya juga sempat berharap banyak dengan PPI daerah Kyoto, berharap bahwa mereka bisa menjadi keluarga saya yang baru, yang bisa dekat dengan saya secara batin, dan membantu saya untuk menjadi diri saya sendiri. Tapi kenyataan tidak semanis itu, tidak seperti di film-film bahwa kehidupan itu indah. Sosialisasi sungguhlah tidak semudah apa yang kau pikirkan.

Tidak semua warga Indonesia di daerah Kyoto tergabung dan aktif dalam PPI, yah mungkin ini hal wajar saja. Tapi banyak dari mereka yang memang benar-benar ke Jepang untuk menghindari orang Indonesia, mereka tak lagi mau berteman dengan orang Indonesia. Hal ini membuat saya terkejut. Setelah bergabung pun, ternyata apa yang saya rasakan tidaklah sehangat yang saya bayangkan. Tidak ada kedekatan secara batin. Mungkin karena saya masih terlalu muda, dan kebanyakan anggota PPI adalah orang dewasa yang sudah berkeluarga atau setidaknya dalam master degree. Ini semakin menyulitkan saya untuk mendapatkan teman seperjuangan yang saya inginkan.


Ini saat acara kumpul PPI Kyoto
Ini 'teman' seperjuangan saya
Saya pikir, bukankah kita minoritas? Seharusnya, kita secara tidak langsung akan merasa ingin bergantung dengan minoritas yang lain bukan? Ingin saling berbagi perjuangan dengan sesama minoritas bukan? Tapi kenapa saya tidak merasakan kekeluargaan yang erat di dalamnya? Apa yang salah?

Bahkan saat PPI Kyoto hendak mengadakan acara budaya Indonesia pun, hanya sedikit sekali yang berpartisipasi, menolak dengan berbagai alasan. Bukankah ini kesempatan yang tepat untuk saling mengenal sesama orang Indonesia? Tidakkah kau malu nanti jika berpapasan dengan orang Indonesia saat sedang bersama teman non-Indonesia, tapi sebagai sesama Indonesia, kalian tidak saling sapa?

Mungkin ada beberapa kalian yang berpikiran ini hal yang terlalu berlebihan untuk dipikirkan, tapi tolonglah, sebagai sesama warga minoritas, saya hanya ingin kita lebih dekat, karena kita memiliki beban dan perjuangan yang sama.

Saya merasakan kehangatan dan kekeluargaan yang mendalam selama di ITB yaitu di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kebudayaan Banten, atau biasa disebut Debust. Kebanyakan anggotanya adalah yang berasal dari Banten, entah kenapa saya merasakan ikatan yang kuat di antara kami, bahkan pada kakak tingkat, sudah seperti sodara dan adek kakak. Sampai sekarang pun, merekalah yang menjadi warna hidup saya, meski hanya sebatas kontak dunia maya. Mereka yang selalu membuat saya kangen akan Indonesia, selain keluarga saya sendiri. Inilah yang saya harapkan pada awalnya, ketika masuk ke lingkungan PPI Kyoto.

Ini beberapa anggota Debust
Ini saat kami menampilkan tarian dari Banten
Tim penari saya
Ini saat acara perpisahan kejutan
Perpisahan ini untuk melepas saya yang pindah ke Jepang
Tidak semua dari mereka seangkatan dengan saya
Tapi, inilah keadaannya, saya lagi-lagi harus 'beradaptasi' untuk survive di sini. Semoga saya masih tetap bisa mempertahankan kepribadian asli saya, meski harus menahan diri selama 4 tahun di sini.

Salam,
Mitzi Alia.

Friday, May 22, 2015

Structural Engineering

Hisashiburi ne.

Wah sudah 2 minggu sejak golden week. Yah, sangat sibuk. Bentar lagi sudah masuk minggu midterm. Tak heran sebagian dosen memperbanyak PR, report, dan tugas presentasi. LELAH KAWAN. Yah, inilah rasanya kuliah di negeri orang. Kupu-kupu ya, bisa dibilang gitu. Sekalinya ada hari libur seperti sabtu dan minggu pun saya gunakan untuk mengerjakan tugas minggu depan, supaya tidak numpuk di waktu deadline. Selain tugas juga saya harus belajar sedikit demi sedikit, mempersiapkan ujian nanti. Saya juga ikut les privat bahasa Jepang, dan sensei meminta saya untuk menghapalkan 128 kanji. Oke, saya tak lagi punya waktu santai.

Yah, selain kesibukan yang saya lewati akhir-akhir ini, saya baru saja dikenalkan dengan kelas structural engineering. Seperti judul post kali ini, saya sangat tertarik dengan major ini, sesungguhnya. Karena tentunya Jepang sudah sangat terkenal dengan berbagai structure yang telah mereka buat dan memiliki kemampuan tingkat atas, contohnya saja seperti skyscraper, bridge, dam, rock anchor, water tunnel, underwater tunnel, dan sebagainya.

Mengikuti kelas ini, telah memberi saya lebih banyak wawasan tentang structural engineering. Dosen saya membagi kelas dengan kelompok yang terdiri dari 2 orang, oke maksudnya berpasangan. Dan masing-masing dari kami harus mempresentasikan sebuah struktur, bagaimana cara kerjanya, bahannya, juga case study-nya. Karena hasil dari presentasi itu yang paling menarik bagi saya adalah mekanisme skyscraper, maka saya hanya akan membahas skyscraper kali ini.

Banyak dari teman-teman saya mempresentasikan skyscraper tertinggi di dunia, seperi Tokyo Skytree di Tokyo (634m), Burj Khalifa di Dubai (830m) dan Canton Tower di Guangdong (600m). Mereka menceritakan mekanisme pembuatan gedung tersebut sehingga bisa tahan dengan hempasan angin, getaran tektonik, dan juga cara menjaga kestabilan gedung agar tetap berdiri menjulang.

Tokyo Skytree
Canton Tower
Burj Khalifa
Saya juga baru tau ada mekanisme bernama "tuned mass damper" yang biasanya diposisikan di bagian atas skyscraper yang berfungsi untuk menjaga kestabilan gedung tersebut. Caranya yaitu, ketika gedung tersebut mengalami goyangan ke kanan, bola damper ini akan bergerak ke kiri, dan juga sebaliknya, sehingga meniadakan goyangan yang dirasakan gedung.

Contoh mass dumper
Mass dumper dari dekat
Ini cara kerja mass dumper
Selain karena mekanisme itu, skyscraper tersebut juga punya ciri khas masing-masing untuk mempertahankan gedungnya. Contohnya, Tokyo Skytree dengan bentuk tripoid nya, yaitu desain yang dibuat mirip dengan tripod kamera. Tokyo Skytree memiliki fondasi yang kuat, dilambangkan seperti akar yang kuat untuk menopang pohon besar.
Bentuk fondasi Tokyo Skytree
Struktur tripoid Tokyo Skytree
Sementara Canton Tower memiliki bagian "twist" di tengah gedungnya, yang merubah arah oval bagian dasarnya. Canton pada dasarnya hanya terdiri dari 3 pattern, yaitu columns, rings, dan braces. Pattern ini disusun sedemikian rupa, menghasilkan struktur geometri yang rumit dan kuat.

Struktur Canton dari atas
Ini bagaimana "twist" Canton didasari
Umumnya, gedung skyscraper memiliki celah-celah atau pattern-pattern steel seperti Tokyo Skytree dan Canton Tower di bagian luar gedung, untuk mengurangi kecepatan angin yang datang dengan memecahnya di bagian celah-celah pattern steel tersebut. Tapi, tidak bagi Burj Khalifa yang memiliki konsep lain untuk meminimalisir hempasan angin yang menerpa gedung setinggi 830m ini. 

Burj Khalifa didesain sangat unik, membentuk segitiga yang berbeda dengan Tokyo Skytree. Bentuk yang unik ini, selain menjadi ciri khas Burj Khalifa, juga menjadi sanggahan yang kuat untuk menahan gedung tertinggi di dunia ini.

Ini dasar bentuk Burj Khalifa
Desain Burj Khalifa sangat unik, saya pun terpesona melihat kehebatan mekanisme gedung tersebut. Segitiga itu juga tidak hanya untuk memperkuat fondasi gedung, tapi juga untuk memecah kecepatan angin yang menabrak gedung, karena seifat fluida udara, yang akan terpecah bila menabrak ujung segitiga, dan juga akan memperlambatnya ke arah lain.

Bentuk unik Burj Khalifa
Mekanisme angin yang dihadapi Burj Khalifa
Saya sangat beruntung bisa mengetahui hal ini, dan saya senang bisa mempelajari banyak dari kelas ini. Saya berharap bisa terus memahami structural engineering, sehingga saya bisa menerapkannya di Indonesia kelak.

Sebagai penutup, ini beberapa perbandingan skyscraper di dunia.



Salam,
Mitzi Alia.

Friday, May 8, 2015

Golden Week

Wah apa itu? 
Hari dimana kita liat emas? Oke ini ga lucu sih.

Jadi, golden week ini memang terjadi tiap tahun di Jepang. Lalu, apa itu golden week? Yaitu hari dimana kita mendapatkan libur panjang yang lebih dari 3 hari karena tanggal merah yang beruntutan. Kok bisa? Memang kalender nasional di Jepang menentukan hari libur yang panjang ini. Liburnya juga libur nasional karena hari anak, hari hijau, dan 1 hari libur untuk peringatan yang lain. Tapi karena 3 hari libur ini berimpitan dengan hari sabtu dan minggu, saya pun mendapat 5 hari libur. Libur yang cukup panjang di awal semester bukan?

Yap, jadi kemarin, tepatnya 2-6 mei, itulah golden week. Semua orang telah menantikan hari ini untuk bisa berlibur atau sekedar beristirahat di rumah masing-masing. Yang jelas, libur panjang ini tentunya sangat dimanfaatkan oleh orang Jepang. Lokasi-lokasi wisata terkenal pasti sangat ramai.

Lalu? Oh tentunya saya tidak mau kalah, saya juga ikutan mengabiskan golden week dengan jalan-jalan. Tapi sayangnya saya tidak bisa fully merayakan libur panjang ini, karena banyak tugas yang harus saya kerjakan, ditambah saya juga butuh istirahat.

Hari pertama golden week yaitu sabtu, di hari ini saya tidak pergi kemana-mana, mengerjakan tugas, PR, dan laporan selagi banyak waktu kosong. Selain itu juga saya nyuci, bersih-bersih kamar, menulis, belanja, yaah sekitar itu saja. Hari minggu esoknya, saya juga memutuskan untuk di dorm, menyelesaikan apa yang belum selesai.

Hari senin, saya sudah tidak tahan untuk tetap diam di dorm, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah kota Kyoto, dengan teman saya. Alhasil, kami ke daerah shijo, melihat keramaian kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Oke, saya memang tinggal di desa Kyoto, wajar saja saya jarang melihat segitu banyak orang dan tingginya toko-toko dan mall. Kami hanya berkeliling, karena kami tau kalau harga yang dipasang bukan buat ukuran kami lol. Sesekali jika ada yang murah, barulah kami membelinya.


Ramainya orang di Shijo
Salah satu cafe yang kami lihat di Shijo
Uniknya, bagian samping cafe adalah sungai bening
Pojok toko Flying Tiger di shijo, unik bukan?

Kami makan siang di resto udon, dan disini saya pertama kalinya mencoba udon tanpa kuah! Astaga, ternyata ada ya udon tanpa kuah.


Ini resto udon yang kami singgahi
Dan ini udon tanpa kuah yang saya coba

Kami juga sempat melewati Kyoto City Hall (Kyoto Shiyakusho), bangunan yang besar dan unik. Dan setelahnya, kami mampir di Holly's Cafe, memanjakan perut untuk cemilan sore. Duh duh.


Inilah Kyoto City Hall
Ini Holly's Cafe
Dan menu yang kami pesan
Setelah puas berkeliling, melihat-lihat, dan mengenal daerah shijo, kami pun mengunjungi International Manga Museum. Oke, awalnya saya memang ngga tau apa yang akan ada di dalamnya, tapi kalau boleh dibilang, museum ini lebih tepatnya sama dengan perpustakaan khusus komik yang memiliki koleksi hingga ribuan komik, terutama komik Jepang. Harga tiket masuk ke museum ini yaitu ¥800.


Museum Manga tampak luar
Salah satu lorong di dalamnya
Suasana di dalam sunyi, seperti perpustakaan
Salah satu rak koleksi komik yang ada
Setelah dari situ, kami memutuskan untuk menghabiskan malam di kota, akhirnya kami pergi ke Kyoto Station. Di sinilah pusat kereta di Kyoto. Jangan berpikir bahwa kalau stasiun, isinya hanya loket kereta, tidak, tidak. Kyoto Station memiliki 6 lantai yang keseluruhan lantainya berisi toko, restoran, dan bahkan hotel! Desain stasiun-nya juga sangat unik. Persis di depan Kyoto Station ini, kami bisa melihat Kyoto Tower. Wow, sungguh pemandangan kota yang indah saat malam hari.

Ini Kyoto Station tampak depan

Dan ini Kyoto Tower, dilihat dari depan Kyoto Station
Ini bagian dalam Kyoto Station, keren kan?
Saat kami kesana, ternyata hari anak, sehingga ada seperti ini
Ini pemandangan Kyoto dari atas Kyoto Station
Setelah puas melihat Kyoto Station, kami memutuskan untuk mencari makan malam, dan memilih restoran Italia. Soalnya kami juga takut untuk memilih resto yang aneh-aneh, karena kebanyakan resto pasti memiliki babi sebagai salah satu menu-nya.


Ini yang kami pesan
Dan akhirnya kami pun pulang, memang benar, pemandangan malam sangat luar biasa bagusnya. Kau bisa melihat gemerlap lampu-lampu gedung tinggi dengan kerapian kota yang sangat luar biasa. Kami pun sampai di dorm sekitar jam 10.30.
Cantiknya pemandangan malam
Esoknya, belum puas berjalan-jalan di kota, kami pun menuju salah satu lokasi wisata di Kyoto, kuil terkenal dengan 1000 gate-nya, yaitu Fushimi Inari-taisha. Ya, ini adalah salah satu kuil paling terkenal di Kyoto. Masuknya gratis, hanya saja kita harus mendaki sekitar 200 meter untuk mencapai puncak. Selama perjalanan mendaki itu, kami melewati tangga yang dihias oleh gerbang-gerbang kuil berwarna oranye.


Ini gerbang utama
Dan ini beberapa gerbang awal
Lalu melalui beberapa gerbang kecil
Inilah tangga-tangga yang harus didaki
Ini kuil utama sebeum gerbang utama
Pendakian yang rendah, tapi ternyata cukup melelahkan. Pemandangan yang kami lewati juga sangat indah dan terawat. Meskipun kami tidak bisa apa-apa selain mendaki, foto, dan turun, tapi kami mempelajari banyak budaya Jepang. Di setiap perhentian dakian, ada kuil untuk berdoa, dan juga kuburan-kuburan orang-orang tertentu.


Pemandangan yang kami dapat saat di atas
Gantungan kepala musang, berisi harapan-harapan dan doa
Fushimi Inari sangat terkenal dengan musang
Setelah naik dan turun, kami pun melihat beberapa aksesoris yang ditawarkan, dan istirahat. Ada beberapa penjual makanan, dan kami membei Taiyaki dan Takoyaki.


Ini stand penjual Taiyaki
Dan inilah taiyaki yag saya beli

Semakin sore, sudah saatnya kami pulang, sebelum malam, karena saya memakai sepeda ke lokasi Fushimi Inari ini. Saya ngga berani kalau harus mengendarai sepeda malam-malam, beresiko.

Dan alhasil, esok harinya, di hari terakhir golden week, saya pun tepar seharian. Yah, tapi lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa saat golden week.

Masih banyak lokasi cantik di Kyoto yang belum saya kunjungi, tunggu kisah selanjutnya!


Salam,
Mitzi Alia