Showing posts with label PPI Kyoto. Show all posts
Showing posts with label PPI Kyoto. Show all posts

Friday, March 25, 2016

Moving Out

Ok here we go.

Kali ini saya akan becerita tentang moving out saya. Yap, masa berlaku untuk tinggal di asrama sudah habis, saya harus pindah. Antara sedih dan senang LOL, soalnya saya dapat apartemen yang lebih dekat ke kampus, cuma sekitar 10 menit naik sepeda yeah. Kalau asrama saya butuh waktu 30 menit naik sepeda.

Sunday, December 13, 2015

'Late' Post

Maji de, hisashiburi!

    Wah, wah tak terasa seperti sudah berabad abad saya tak menulis apapun. Bukannya tak ada hal istimewa selama 2 bulan terakhir ini, hanya saja waktu berjalan sungguh TERLALU cepat hingga saya tak diperbolehkan untuk bernapas, ah bohong. Tak ada orang yang terlalu sibuk. Sesibuk apapun orang itu, kalau memang penting sih pasti dia akan meluangkan waktunya untuk mengerjakan hal penting itu.

    Yah, intinya, saya tak benar-benar menyisihkan waktu saya untuk menulis. Kebetulan sekarang lagi ada mood untuk sharing, yasudah saya tekadkan untuk menulis. Masalah dari semester ini, yang membuat saya begitu sulit untuk meluangkan waktu, adalah saya mengambil 15 course, yaitu sekitar 18 kelas, dan kalau ditotal kira-kira sama kaya 36 sks. Sungguh, memang saya juga yang nekat, tapi saya hanya ingin cepat menyelesaikan semua matkul tambahan di semester ini, jadi saya tak perlu mengambil kelas tambahan lagi tahun depan JIKA dan HANYA JIKA saya dapat semua kredit di semester ini. Maka dari itu, mau tak mau saya harus benar-benar fokus untuk belajar. Sekali pun saya ada waktu istirahat sabtu-minggu, saya gunakan untuk melampiaskan hobi saya (re: nonton anime yang jadi kewajiban saya setiap sabtu-minggu, atau gambar). Maka dari itu, saya tak benar-benar meluangkan waktu untuk menulis blog.

    Tapi, sudah 2 bulan terlewatkan. Banyak hal yang terjadi, hingga saya tak tahu harus mulai darimana. Coba saya runutkan dengan baik.

Thursday, August 27, 2015

Malam Indonesia

Okaeri!

Yah sudah lama saya belum posting lagi ya. Sebenarnya saya juga tak ada kerjaan khusus sih, cuma akhir-akhir ini saya menghabiskan waktu untuk baca beberapa novel. Dan saya tak tahan lagi, saya juga sepertinya akan memulai plot projek manga saya. Semakin lama di Jepang, semakin semangat saya untuk memulai my own manga haha. Yah tapi itu bukan hal mudah, menemukan plot yang menarik dan tak mirip dengan manga yang lain, tentunya butuh pemikiran yang keras. 

Meskipun begitu, saya juga agak khawatir sih. Hasil semester 1 kemarin baru saja keluar dan, yah tidak bagus. Bahkan saya failed di salah satu matkul, terpaksa saya harus mengulang matkul itu di semester  3. Tentunya ini tamparan bagi saya. Well, seumur umur saya belum pernah gagal segininya kalau tentang pelajaran. Biasanya hanya mepet gagal saja, tapi ini benar-benar gagal. Sejujurnya saya syok, apalagi nilainya cukup jauh dari batas minimal. Apa boleh buat, ini jadi trigger saya untuk "tak boleh gagal" di semseter 2 nanti. Berat sih, beban banget buat saya, tapi yah itu kesalahan saya sendiri. Mungkin kemarin saya memang belum serius.

Posting kali ini, saya akan bercerita tentang Malam Indonesia, wah apa itu? Sebenarnya ini adalah acara rutin Indonesian performance selama 2 tahun sekali oleh PPI Kyoto-Shiga. Acara ini diselenggarakan tanggal 9 Agustus kemarin. Sekitar 3 bulan kami mempersiapkan ini, latiham tiap sabtu-minggu (karena tak mungkin ganggu waktu kuliah), terus tentunya yang paling sibuk adalah senpai-senpai yang mengurus alur performance, anggota, bagian panggung, dan pendanaan. Saya karena hanya diundang untuk ikut tampil, cuma tau harus nari ini dan itu. 

Thursday, August 6, 2015

Ramen Halal

Konbanwa,

Yeah kali ini saya akan membahas tentang kios ramen berlabel 'Halal' yang baru-baru ini dibuka di dekat Kyoto Station. Yah, selama ini kami tak bisa memakan atau mencicipi ramen, karena kandungan kuah ramen yang biasa dijual itu mengandung babi. Makanya setelah tau tentang kios ini, warga PPI yang penasaran langsung menyerbu tempat ini untuk merasakan ramen asli Jepang. Yah saya juga penasaran soalnya, banyak yang bilang taste ramen asli Jepang itu beda jauh sama yang biasa kita rasakan di Indonesia.
Nah ini tampak dari luar
Akhirnya waktu itu saya dan beberapa teman di PPI pun pergi ke kios bernama 'Ayam-Ya' ini. Saya juga baru sadar bahwa nama kios nya itu berbahasa Indonesia, entah mengapa.
Nama kios nya
Ini menunya
Kami pun masuk, tempatnya ga terlalu besar, tapi ada musholla nya juga sih jadi convenient banget deh. Cara pesennya juga unik sih, jadi ada mesin seperti vending machine, kita harus pilih menunya dan langsung bayar. Jadi kita bayar sebelum makan gitu. Setelah bayar, kita dapet kartu, nah kartu ini yang dikasih ke pelayannya. Yang bikin kaget adalah ternyata pelayannya orang Indonesia! Duh, lol banget ya, dia nanya ke kita mau porsi besar atau kecil (soalnya harganya sama) pake bahasa Indonesia. 
Ini mushollanya, di depannya ada pintu masuk musholla cowo
Ini untuk mesen makanannya
Setelah ngasih pesanan, kami duduk nunggu, waktu itu kebetulan udah waktu maghrib, jadi kami solat dulu sambil nunggu pesanan. Setelah solat, ga lama kemudian pesanan pun diantar. Dan kami pun mencicipi rasa ramen asli Jepang.
Toko tampak dari dalem
Nah inilah ramen halal!
Well, enak sih, cuma saya merasa biasa aja, duh. Padahal teman-teman saya banyak yang bilang enak banget, sampe dateng berkali kali dan nambah gitu haha. Tapi kata saya sih ya enak, tapi biasa aja gitu, kaya mie biasa hahaha. Saya lebih suka udon entah kenapa. Tapi kalau penasaran rasa ramen asli Jepang sih worth it kok, biar ga penasaran lagi kan rasanya kaya apa. Ternyata emang beda banget sama ramen yang dijual di Indonesia. Kaldunya lebih kerasa kental gitu, taste nya beda banget deh. Jadi jangan samakan rasa ramen Indonesia dengan ramen asli Jepang ya!
Gerombolan kami
Oke bagi yang penasaran, silakan kunjungi 'Ayam-Ya' deket Kyoto Station! Alamatnya sekitar sini.

Salam,
Mitzi Alia.

Friday, July 31, 2015

Lebaran dan Typhoon

Ohayou!

Akhirnya! Semester 1 pun berlalu! Akhirnya saya berhasil menyelesaikan semua final exam dan report yang membebani saya selama ini lol. Akhirnya saya bisa merasakan libur musim panas yang telah di depan mata. Berbagai rencana sudah tersusun rapi untuk me-refresh otak saya yang sedikit over-working. Yah, untuk mempersiapkan final exam saja saya harus beberapa kali tidak tidur. Saya sampai nginap di kampus buat belajar. Ohya enaknya di sini ada 24H room buat mahasiswa yang mau belajar di kampus. Dan saya agak syok pas ikut 'menginap', ternyata rame banget sama orang Jepang. Hebat ya mereka belajarnya beneran ga tidur semaleman! Yah walau saya juga pada akhirnya melakukan hal yang sama.

Kebetulan saya 'masih' di kampus, baru menyelesaikan report terakhir saya yang harus dikumpulkan hari ini. Dan saya benar-benar belum tidur dari kemarin. Setidaknya tugas saya selesai dan saya bisa bernapas lega.

Nah, untuk kali ini saya mau membahas tentang lebaran di Kyoto. Mungkin udah telat ya, soalnya saya baru sempat lagi menulis. Sebelumnya saya benar-benar fokus untuk meghadapi final exam.

Friday, June 26, 2015

Moslem in Kyoto

Oyasumi.

Tanya jam berapa, maka ini sudah jam 23.37 di tempat saya. Akhir-akhir ini saya banyak tugas. Yah, bukan akhir-akhir ini saja, saya memang selalu banyak tugas, tapi kali ini lebih banyak lagi. Ada 6 report yang harus saya tulis, 3 presentasi yang harus saya siapkan, dan 1 portfolio yang harus dikerjakan. Oke, dalam waktu 2 minggu, saya harus sanggup menyelesaikannya. Mustahil? Mungkin. Tapi tentu saja tak akan selesai jika saya hanya memikirkan apa yang harus saya kerjakan.

Puasa pun telah dimulai. Baru seminggu saya melaui puasa di negeri orang. Rasanya saya rindu ta'jil yang biasa saya dapat di rumah, rindu makanan Indonesia yang bisa memuaskan lidah saya. Ah, tak ada gunanya pula membayangkan hal itu. Puasa mulai terasa berat, suhu di sini semakin memanas, dehidrasi pun semakin cepat. Saya harus bertahan dengan cuaca ini, puasa selama 16 jam, subuh jam 2.55 dan maghrib jam 19.15. Yah, berat sih, tapi apa boleh buat kan. Mengeluh juga tak meringankan beban. Selagi saya bisa, tertawalah untuk kesulitan ini.

Oke, cukup ceritanya, kali ini saya akan membahas sedikit tentang kehidupan muslim di Kyoto. Sebenarnya cukup mudah. Walau tidak semudah di Indonesia, tapi kami masih bisa menemukan makanan halal, restoran halal, bahkan kami memiliki masjid (mungkin setara dengan musholla kalau di Indonesia) yang juga memiliki kooperasi yang kebanyakan isinya makanan Indonesia. Mungkin karena muslim di sini didominasi oleh orang Indonesia, makanya makanannya juga kebanyakan dateng dari Indonesia. Bagi cowok, keberadaan tempat ini pasti sangat melegakan, karena mereka harus solat jumat tiap minggu kan.
Ini musholla nya
Pintu masuknya
Kadang juga PPI Kyoto mengadakan pengajian bersama di daerah tertentu, beberapa juga saling tukar pendapat tentang masakan, dan toko-toko tertentu yang menjual makanan atau bahan halal. Saya juga baru menemukan site yang khusus mensupport kehidupan muslim di Kyoto, di sini.

Di Kyodai sendiri, cuma ada 2 tempat untuk solat. Dan saya rasa itu bukan 'officialy' buat solat sih. Tapi kebanyakan orang solat disitu, kadang zuhur biasanya kita jamaah 4 orang lah.
Lokasi musholla di Kyodai
Setidaknya saya tidak merasa terlalu kesulitan. Di bulan puasa ini pun beberapa teman juga tau tentang Ramadhan. Jadi saya tak perlu banyak menjelaskan tentang apa itu puasa pada mereka, mereka paham kalau kita 'tak boleh makan saat matahari di langit'.

Sabtu kemarin, 20 Juni 2015, PPI Kyoto sudah mengadakan buka bersama Alhamdulillah. Banyak banget makanannya, sampai saya kenyang banget. Bahkan makanannya masih sisa, dan kami bisa membungkusnya pulang untuk sahur atau buka besoknya. Semua makanan ini dibuat sama warga Indonesia. Mereka benar-benar mempersiapkan acara ini.
Agar-agar
Makanan utama
Makanan utama
Beberapa orang sudah menunggu buka
BAHKAN ADA YANG BUAT PEMPEK
Memuaskan lah program seperti ini. Sabtu ini juga sebenarnya akan ada buka bersama, tapi bukan di Kyoto, jadi terlalu jauh buat saya untuk ke sana. Mungkin kali ini saya tidak ikut. Selain karena jauh, masih banyak tugas saya juga yang menunggu diselesaikan.

Selain itu, saya juga membeli kurma di kooperasi masjid. Tapi tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia, yaitu sekitar ¥1,200 untuk 1kg. Karena terlalu banyak, saya pun patungan dengan senpai-chan. Ups, maaf, saya biasa memanggilnya begitu. Dia senpai tahun ke-4, satu-satunya senpai yang dekat dengan saya mungkin. Saya sudah banyak merepotkannya, saya harap suatu saat bisa membalas kebaikannya.
Kurma yang saya beli, eh 'kami' beli
Oke mungkin cukup dulu infonya. Yang jelas, menjadi muslim di sini tidak sesulit yang dibayangkan, karena kami punya kumpulan PPI Kyoto yang mayoritas muslim. Jadi tidak ada masalah untuk makanan, solat, puasa dan hal lainnya.

Salam,
Mitzi Alia.

Friday, May 29, 2015

Teman

Seperti hal yang tidak penting, tapi mungkin penting untuk kalian yang ingin tau apa rasanya jadi perantau di negeri orang. Mungkin tidak semua orang berpikiran sama, ada aja yang tidak setuju dengan ini, tapi ini hanya catatan saya, apa yang saya rasakan selama di sini. Mungkin saya terlalu sensitif dan berlebihan bagi kalian, tapi tidak ada tambahan apapun dari tulisan saya.

Saya ingin sedikit berbagi rasa. Mungkin para perantau di negeri orang telah merasakan hal ini berkali-kali, dan saya sebagai pendatang baru, entah kenapa harus merasakan ini di saat yang tidak tepat. Saya tau bentar lagi midterm exam akan datang, bahkan tugas-tugas mulai semakin sulit. Tapi justru ini lah yang sangat mengganggu saya. Entah sudah keberapa kali saya merasakan kehampaan, kesepian, kebosanan dari kehidupan saya ini. Kupu-kupu, mungkin kata-kata yang tepat. Memang saya tak punya waktu untuk santai, tapi akhir-akhir ini saya kehilangan gairah untuk belajar. Awalnya saya pikir saya jenuh, tapi saya sadari bukan itu penyebabnya.

Saya hanya butuh teman.

Teman yang tidak hanya sekedar nama, teman yang dulu bisa saya dapatkan semasa di ITB, teman seperjuangan, teman yang bisa saya ajak diskusi, belajar bersama, main bersama, tertawa bersama, gabut bersama, dan kami bisa saling support dalam masalah kuliah.

Di sini saya tidak memiliki itu. Entah sudah berapa kali saya berusaha mencoba lebih dekat dengan teman-teman internasional saya, tapi tidak bisa. Selalu ada sesuatu yang menjadi penghalang untuk bisa lebih dekat dengan mereka. Saya tidak bermaksud rasis atau sejenisnya, tapi itulah yang saya rasakan. Perbedaan background, adat dan kebiasaan, membuat saya harus lebih banyak 'memaklumi' dan tidak bisa menjadi diri saya yang sebenarnya, saya yang harus beradaptasi. Ini membuat saya frustasi. Di samping saya butuh teman untuk mendukung saya dalam akademik, saya juga butuh teman sepemikiran, dan sejalan dengan keinginan saya untuk bisa menggali potensi saya.

Ini yang tidak saya dapatkan di sini. Teman. Bukan hanya teman dalam arti harfiah, tapi arti 'teman' sesungguhnya, secara batin.

Akhir-akhir ini saya sering sekali stuck dengan tugas, dan membuat saya frustasi karena tidak tau harus minta bantuan pada siapa. Memang ada teman sekelas saya yang dari indonesia juga, tapi dia berbeda dengan saya, saya tidak bisa seutuhnya menjadi diri saya. Dia bisa belajar dengan sendiri, sementara saya tidak. Saya juga tidak bisa terus-terusan bergantung dengannya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan teman, dekat dengan mereka, tidak seperti saya. Dia memiliki wawasan luas, tidak seperti saya. Saya hanya gadis kikuk yang sulit sekali untuk mendapatkan teman di awal permulaan. Tapi saya sadar bahwa saya bukan tipe orang yang bisa hidup tanpa teman, bukan tipe orang yang suka menyendiri dan bisa menyelesaikan semua masalah sendiri. Saya butuh teman, tapi saya menyerah untuk mendapatkannya. Kontradiksi sekali.

Saya juga sempat berharap banyak dengan PPI daerah Kyoto, berharap bahwa mereka bisa menjadi keluarga saya yang baru, yang bisa dekat dengan saya secara batin, dan membantu saya untuk menjadi diri saya sendiri. Tapi kenyataan tidak semanis itu, tidak seperti di film-film bahwa kehidupan itu indah. Sosialisasi sungguhlah tidak semudah apa yang kau pikirkan.

Tidak semua warga Indonesia di daerah Kyoto tergabung dan aktif dalam PPI, yah mungkin ini hal wajar saja. Tapi banyak dari mereka yang memang benar-benar ke Jepang untuk menghindari orang Indonesia, mereka tak lagi mau berteman dengan orang Indonesia. Hal ini membuat saya terkejut. Setelah bergabung pun, ternyata apa yang saya rasakan tidaklah sehangat yang saya bayangkan. Tidak ada kedekatan secara batin. Mungkin karena saya masih terlalu muda, dan kebanyakan anggota PPI adalah orang dewasa yang sudah berkeluarga atau setidaknya dalam master degree. Ini semakin menyulitkan saya untuk mendapatkan teman seperjuangan yang saya inginkan.


Ini saat acara kumpul PPI Kyoto
Ini 'teman' seperjuangan saya
Saya pikir, bukankah kita minoritas? Seharusnya, kita secara tidak langsung akan merasa ingin bergantung dengan minoritas yang lain bukan? Ingin saling berbagi perjuangan dengan sesama minoritas bukan? Tapi kenapa saya tidak merasakan kekeluargaan yang erat di dalamnya? Apa yang salah?

Bahkan saat PPI Kyoto hendak mengadakan acara budaya Indonesia pun, hanya sedikit sekali yang berpartisipasi, menolak dengan berbagai alasan. Bukankah ini kesempatan yang tepat untuk saling mengenal sesama orang Indonesia? Tidakkah kau malu nanti jika berpapasan dengan orang Indonesia saat sedang bersama teman non-Indonesia, tapi sebagai sesama Indonesia, kalian tidak saling sapa?

Mungkin ada beberapa kalian yang berpikiran ini hal yang terlalu berlebihan untuk dipikirkan, tapi tolonglah, sebagai sesama warga minoritas, saya hanya ingin kita lebih dekat, karena kita memiliki beban dan perjuangan yang sama.

Saya merasakan kehangatan dan kekeluargaan yang mendalam selama di ITB yaitu di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kebudayaan Banten, atau biasa disebut Debust. Kebanyakan anggotanya adalah yang berasal dari Banten, entah kenapa saya merasakan ikatan yang kuat di antara kami, bahkan pada kakak tingkat, sudah seperti sodara dan adek kakak. Sampai sekarang pun, merekalah yang menjadi warna hidup saya, meski hanya sebatas kontak dunia maya. Mereka yang selalu membuat saya kangen akan Indonesia, selain keluarga saya sendiri. Inilah yang saya harapkan pada awalnya, ketika masuk ke lingkungan PPI Kyoto.

Ini beberapa anggota Debust
Ini saat kami menampilkan tarian dari Banten
Tim penari saya
Ini saat acara perpisahan kejutan
Perpisahan ini untuk melepas saya yang pindah ke Jepang
Tidak semua dari mereka seangkatan dengan saya
Tapi, inilah keadaannya, saya lagi-lagi harus 'beradaptasi' untuk survive di sini. Semoga saya masih tetap bisa mempertahankan kepribadian asli saya, meski harus menahan diri selama 4 tahun di sini.

Salam,
Mitzi Alia.