Konbanwa!
Sebelumnya, selamat hari raya Idul Adha! Alhamdulillah Idul Adha bisa saya rayakan bersama keluarga di rumah.
Nah berhubungan dengan judul kali ini, KiDS yang saya maksudkan bukan dalam arti "anak-anak", tapi singkatan dari Kyoto University Disaster Prevention School. Nah inilah acara yang saya jalani selama di Jogjakarta. Baru saja kemarin saya kembali dari Jogja setelah menyelesaikan misi yang dibebankan pada 5 orang Indonesia (termasuk saya) dan 5 orang Jepang itu.
Lalu, apasih KiDS ini? Ya, secara kasarnya sih program ini mirip dengan penyuluhan tentang bencana alam ke berbagai SD yang ada kemungkinan rawan bencana. Pendidikan kaya gini sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak sejak dini supaya tingkat kesadaran mereka meningkat dan bisa mengurangi korban yang mungkin berjatuhan jika bencana tersebut datang. Inilah tujuan utama KiDS.
Selain mengunjungi SD untuk penyuluhan, kami juga mengunjungi badan atau organisasi yang bekerja di bidang pengamatan dan mitigasi bencana alam, seperti BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan PSBS UGM (Pusat Studi Bencana Alam UGM).
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts
Thursday, September 24, 2015
Sunday, September 13, 2015
Going Home
Well it's been a long long long time, isn't it?
Yah, saya memang lagi pulang ke Indonesia. Duh sebenarnya malu juga ya, baru aja 5 bulan disana, masa sudah pulang. Saya memang tak ada niat pulang kok. 帰るつもりはないよ。Tapi waktu itu tiba-tiba diajak senpai untuk ikut acara volunteer program tentang disaster prevention di Jogja. Awalnya saya sempat ragu juga, ikut apa ngga. Kalau saya ikut berarti saya harus pulang kan, masa ke Indonesia tapi ga pulang sih. Akhirnya setelah diskusi sama orang tua, yah saya memutuskan untuk pulang. Jadilah saya pulang sekarang!
Yah, saya memang lagi pulang ke Indonesia. Duh sebenarnya malu juga ya, baru aja 5 bulan disana, masa sudah pulang. Saya memang tak ada niat pulang kok. 帰るつもりはないよ。Tapi waktu itu tiba-tiba diajak senpai untuk ikut acara volunteer program tentang disaster prevention di Jogja. Awalnya saya sempat ragu juga, ikut apa ngga. Kalau saya ikut berarti saya harus pulang kan, masa ke Indonesia tapi ga pulang sih. Akhirnya setelah diskusi sama orang tua, yah saya memutuskan untuk pulang. Jadilah saya pulang sekarang!
![]() |
| Oleh-oleh Tokyo Banana saya beli di bandara |
| Pemandangan dari bandara |
Friday, May 29, 2015
Teman
Seperti hal yang tidak penting, tapi mungkin penting untuk kalian yang ingin tau apa rasanya jadi perantau di negeri orang. Mungkin tidak semua orang berpikiran sama, ada aja yang tidak setuju dengan ini, tapi ini hanya catatan saya, apa yang saya rasakan selama di sini. Mungkin saya terlalu sensitif dan berlebihan bagi kalian, tapi tidak ada tambahan apapun dari tulisan saya.
Saya ingin sedikit berbagi rasa. Mungkin para perantau di negeri orang telah merasakan hal ini berkali-kali, dan saya sebagai pendatang baru, entah kenapa harus merasakan ini di saat yang tidak tepat. Saya tau bentar lagi midterm exam akan datang, bahkan tugas-tugas mulai semakin sulit. Tapi justru ini lah yang sangat mengganggu saya. Entah sudah keberapa kali saya merasakan kehampaan, kesepian, kebosanan dari kehidupan saya ini. Kupu-kupu, mungkin kata-kata yang tepat. Memang saya tak punya waktu untuk santai, tapi akhir-akhir ini saya kehilangan gairah untuk belajar. Awalnya saya pikir saya jenuh, tapi saya sadari bukan itu penyebabnya.
Saya hanya butuh teman.
Teman yang tidak hanya sekedar nama, teman yang dulu bisa saya dapatkan semasa di ITB, teman seperjuangan, teman yang bisa saya ajak diskusi, belajar bersama, main bersama, tertawa bersama, gabut bersama, dan kami bisa saling support dalam masalah kuliah.
Di sini saya tidak memiliki itu. Entah sudah berapa kali saya berusaha mencoba lebih dekat dengan teman-teman internasional saya, tapi tidak bisa. Selalu ada sesuatu yang menjadi penghalang untuk bisa lebih dekat dengan mereka. Saya tidak bermaksud rasis atau sejenisnya, tapi itulah yang saya rasakan. Perbedaan background, adat dan kebiasaan, membuat saya harus lebih banyak 'memaklumi' dan tidak bisa menjadi diri saya yang sebenarnya, saya yang harus beradaptasi. Ini membuat saya frustasi. Di samping saya butuh teman untuk mendukung saya dalam akademik, saya juga butuh teman sepemikiran, dan sejalan dengan keinginan saya untuk bisa menggali potensi saya.
Ini yang tidak saya dapatkan di sini. Teman. Bukan hanya teman dalam arti harfiah, tapi arti 'teman' sesungguhnya, secara batin.
Akhir-akhir ini saya sering sekali stuck dengan tugas, dan membuat saya frustasi karena tidak tau harus minta bantuan pada siapa. Memang ada teman sekelas saya yang dari indonesia juga, tapi dia berbeda dengan saya, saya tidak bisa seutuhnya menjadi diri saya. Dia bisa belajar dengan sendiri, sementara saya tidak. Saya juga tidak bisa terus-terusan bergantung dengannya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan teman, dekat dengan mereka, tidak seperti saya. Dia memiliki wawasan luas, tidak seperti saya. Saya hanya gadis kikuk yang sulit sekali untuk mendapatkan teman di awal permulaan. Tapi saya sadar bahwa saya bukan tipe orang yang bisa hidup tanpa teman, bukan tipe orang yang suka menyendiri dan bisa menyelesaikan semua masalah sendiri. Saya butuh teman, tapi saya menyerah untuk mendapatkannya. Kontradiksi sekali.
Saya juga sempat berharap banyak dengan PPI daerah Kyoto, berharap bahwa mereka bisa menjadi keluarga saya yang baru, yang bisa dekat dengan saya secara batin, dan membantu saya untuk menjadi diri saya sendiri. Tapi kenyataan tidak semanis itu, tidak seperti di film-film bahwa kehidupan itu indah. Sosialisasi sungguhlah tidak semudah apa yang kau pikirkan.
Tidak semua warga Indonesia di daerah Kyoto tergabung dan aktif dalam PPI, yah mungkin ini hal wajar saja. Tapi banyak dari mereka yang memang benar-benar ke Jepang untuk menghindari orang Indonesia, mereka tak lagi mau berteman dengan orang Indonesia. Hal ini membuat saya terkejut. Setelah bergabung pun, ternyata apa yang saya rasakan tidaklah sehangat yang saya bayangkan. Tidak ada kedekatan secara batin. Mungkin karena saya masih terlalu muda, dan kebanyakan anggota PPI adalah orang dewasa yang sudah berkeluarga atau setidaknya dalam master degree. Ini semakin menyulitkan saya untuk mendapatkan teman seperjuangan yang saya inginkan.
| Ini saat acara kumpul PPI Kyoto |
| Ini 'teman' seperjuangan saya |
Bahkan saat PPI Kyoto hendak mengadakan acara budaya Indonesia pun, hanya sedikit sekali yang berpartisipasi, menolak dengan berbagai alasan. Bukankah ini kesempatan yang tepat untuk saling mengenal sesama orang Indonesia? Tidakkah kau malu nanti jika berpapasan dengan orang Indonesia saat sedang bersama teman non-Indonesia, tapi sebagai sesama Indonesia, kalian tidak saling sapa?
Mungkin ada beberapa kalian yang berpikiran ini hal yang terlalu berlebihan untuk dipikirkan, tapi tolonglah, sebagai sesama warga minoritas, saya hanya ingin kita lebih dekat, karena kita memiliki beban dan perjuangan yang sama.
Saya merasakan kehangatan dan kekeluargaan yang mendalam selama di ITB yaitu di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kebudayaan Banten, atau biasa disebut Debust. Kebanyakan anggotanya adalah yang berasal dari Banten, entah kenapa saya merasakan ikatan yang kuat di antara kami, bahkan pada kakak tingkat, sudah seperti sodara dan adek kakak. Sampai sekarang pun, merekalah yang menjadi warna hidup saya, meski hanya sebatas kontak dunia maya. Mereka yang selalu membuat saya kangen akan Indonesia, selain keluarga saya sendiri. Inilah yang saya harapkan pada awalnya, ketika masuk ke lingkungan PPI Kyoto.
| Ini beberapa anggota Debust |
| Ini saat kami menampilkan tarian dari Banten |
| Tim penari saya |
| Ini saat acara perpisahan kejutan |
| Perpisahan ini untuk melepas saya yang pindah ke Jepang |
| Tidak semua dari mereka seangkatan dengan saya |
Salam,
Mitzi Alia.
Friday, May 8, 2015
Golden Week
Hari dimana kita liat emas? Oke ini ga lucu sih.
Jadi, golden week ini memang terjadi tiap tahun di Jepang. Lalu, apa itu golden week? Yaitu hari dimana kita mendapatkan libur panjang yang lebih dari 3 hari karena tanggal merah yang beruntutan. Kok bisa? Memang kalender nasional di Jepang menentukan hari libur yang panjang ini. Liburnya juga libur nasional karena hari anak, hari hijau, dan 1 hari libur untuk peringatan yang lain. Tapi karena 3 hari libur ini berimpitan dengan hari sabtu dan minggu, saya pun mendapat 5 hari libur. Libur yang cukup panjang di awal semester bukan?
Yap, jadi kemarin, tepatnya 2-6 mei, itulah golden week. Semua orang telah menantikan hari ini untuk bisa berlibur atau sekedar beristirahat di rumah masing-masing. Yang jelas, libur panjang ini tentunya sangat dimanfaatkan oleh orang Jepang. Lokasi-lokasi wisata terkenal pasti sangat ramai.
Lalu? Oh tentunya saya tidak mau kalah, saya juga ikutan mengabiskan golden week dengan jalan-jalan. Tapi sayangnya saya tidak bisa fully merayakan libur panjang ini, karena banyak tugas yang harus saya kerjakan, ditambah saya juga butuh istirahat.
Hari pertama golden week yaitu sabtu, di hari ini saya tidak pergi kemana-mana, mengerjakan tugas, PR, dan laporan selagi banyak waktu kosong. Selain itu juga saya nyuci, bersih-bersih kamar, menulis, belanja, yaah sekitar itu saja. Hari minggu esoknya, saya juga memutuskan untuk di dorm, menyelesaikan apa yang belum selesai.
Hari senin, saya sudah tidak tahan untuk tetap diam di dorm, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah kota Kyoto, dengan teman saya. Alhasil, kami ke daerah shijo, melihat keramaian kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Oke, saya memang tinggal di desa Kyoto, wajar saja saya jarang melihat segitu banyak orang dan tingginya toko-toko dan mall. Kami hanya berkeliling, karena kami tau kalau harga yang dipasang bukan buat ukuran kami lol. Sesekali jika ada yang murah, barulah kami membelinya.
| Ramainya orang di Shijo |
| Salah satu cafe yang kami lihat di Shijo |
![]() |
| Uniknya, bagian samping cafe adalah sungai bening |
![]() |
| Pojok toko Flying Tiger di shijo, unik bukan? |
Kami makan siang di resto udon, dan disini saya pertama kalinya mencoba udon tanpa kuah! Astaga, ternyata ada ya udon tanpa kuah.
| Ini resto udon yang kami singgahi |
| Dan ini udon tanpa kuah yang saya coba |
Kami juga sempat melewati Kyoto City Hall (Kyoto Shiyakusho), bangunan yang besar dan unik. Dan setelahnya, kami mampir di Holly's Cafe, memanjakan perut untuk cemilan sore. Duh duh.
| Inilah Kyoto City Hall |
| Ini Holly's Cafe |
![]() |
| Dan menu yang kami pesan |
| Museum Manga tampak luar |
| Salah satu lorong di dalamnya |
| Suasana di dalam sunyi, seperti perpustakaan |
| Salah satu rak koleksi komik yang ada |
| Ini Kyoto Station tampak depan |
![]() |
| Dan ini Kyoto Tower, dilihat dari depan Kyoto Station |
![]() |
| Ini bagian dalam Kyoto Station, keren kan? |
| Saat kami kesana, ternyata hari anak, sehingga ada seperti ini |
| Ini pemandangan Kyoto dari atas Kyoto Station |
| Ini yang kami pesan |
![]() |
| Cantiknya pemandangan malam |
| Ini gerbang utama |
![]() |
| Dan ini beberapa gerbang awal |
![]() |
| Lalu melalui beberapa gerbang kecil |
![]() |
| Inilah tangga-tangga yang harus didaki |
| Ini kuil utama sebeum gerbang utama |
| Pemandangan yang kami dapat saat di atas |
| Gantungan kepala musang, berisi harapan-harapan dan doa |
![]() |
| Fushimi Inari sangat terkenal dengan musang |
| Ini stand penjual Taiyaki |
![]() |
| Dan inilah taiyaki yag saya beli |
Semakin sore, sudah saatnya kami pulang, sebelum malam, karena saya memakai sepeda ke lokasi Fushimi Inari ini. Saya ngga berani kalau harus mengendarai sepeda malam-malam, beresiko.
Dan alhasil, esok harinya, di hari terakhir golden week, saya pun tepar seharian. Yah, tapi lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa saat golden week.
Masih banyak lokasi cantik di Kyoto yang belum saya kunjungi, tunggu kisah selanjutnya!
Salam,
Mitzi Alia
Sunday, May 3, 2015
Semacam Rindu
Tak terasa genap sebulan sudah saya di negeri orang.
Dreaming alone.
Dreaming alone.
Is it me that you see? Tell me I'm not dreaming alone.
Lagi, saya memimpikan hal yang sama, orang bilang saya rindu. Yah mungkin saja, tapi ini sudah tak wajar, apa yang salah dengan otak saya? Saya tidak terlalu memikirkannya.
Tidak, tidak, saya hanya tidak mau mengakuinya.
Setiap hari, saya selalu memikirkan apa yang dilakukannya.
Bagaimana keadaannya.
Tentu saja saya memikirkannya, nasib Indonesia di masa yang akan datang.
Lagi-lagi saya memimpikannya. Apakah saya segitu rindunya?
Apa yang membuat saya merindukan negeri berkembang yang tak kunjung maju itu? Apa yang saya rindukan dari cuaca panas, polusi udara dan suara, juga masalah ekonomi dan politik negeri yang tak kunjung selesai? Apa yang saya harapkan?
Ironi memang, Indonesia tampak begitu Indah di luar. Tapi begitu kau masuk ke dalam, sebagian isinya telah membusuk, terlantar, dan ditinggalkan. Lalu diambil alih oleh tetangga. Menyedihkan, mengingat begitu banyak sumber daya alam dan kebudayaan di Indonesia.
Apa yang salah dari negeri sakura ini? Semuanya teratur, manusia dididik untuk jadi manusia, manner yang berlaku juga sangat sopan. Apa yang kurang? Bahkan sampai sekarang pun saya tidak bisa menemukan titik kelemahan Jepang yang bisa membuat saya kecewa.
Mungkin satu hal yang sangat disayangkan di sini adalah, makanan yang disediakan sangat terbatas, tidak seperti Indonesia yang sangat melimpah akan jenis makanannya. Ah, lagi-lagi sayang sekali kita tidak bisa menjadikannya sebagai keunggulan.
Bahkan saya sudah tidak bisa menemukan beberapa jenis sayuran yang biasa ada di Indonesia. Bila pun ada, bentuknya sangat berbeda. Kita bisa menemukan daging ayam yang masih segar, baru disembelih saat kita hendak membeli di Indonesia. Tapi di sini tidak, kita hanya bisa menemukan daging ayam yang telah dibersihkan, tersedia di supermarket.
| Ini ayam yang ada di freezer supermarket |
![]() |
| Tidak seperti telur di Indonesia yang warnanya coklat |
| Di sini, jamur enoki banyak dan digemari |
| Ini timun, saya hampir tidak mengenalinya |
| Brokoli nya besar-besar |
| Yang ini bayam, ada akarnya! Aneh bukan? |
![]() |
| Saya belum pernah melihat salada dijual bulat bulat seperti ini |
| Dan ini kecap, tapi bukan kecap yang seperti di Indonesia |
Sulitnya pula di sini, saya tidak mengerti bahasanya, karena kebanyakan pakai kanji, dan saya belum banyak hafal kanji. Biasanya kalau untuk ke supermarket seperti ini, saya hanya menghafalkan kanji babi dan kanj sake. Kalau saya tidak melihat 2 kanji ini di komposisinya, berarti saya bisa membelinya.
Sungguh, saya rindu dengan Indonesia. Rindu akan makanannya, bahasanya, lingkungannya, teman-teman saya. Terutama saya rindu Bandung, yah entah kenapa kalau lihat video ini, saya baper pisan. Apalagi saat saya melihat gedung ITB ditampilkan.
Dan satu lagi video yang membuat saya sadar bahwa Indonesia sangat cantik, siapa yang belum pernah menonton Epic Java? Kalian orang Indonesia harus menontonnya, supaya kalian menyadari bahwa Indonesia sangatlah kaya.
Salam,
Mitzi Alia.
Sunday, April 26, 2015
School Life
Konbanwa.
Nah, akhirnya saya mendapatkan waktu untuk kembali menulis. Akhir-akhir ini tugas semakin menjadi, sehingga sulit menemukan waktu luang untuk sekedar menyalurkan informasi di blog muda ini.
Seperti judulnya, kali ini saya akan membahas perbedaan sistem pendidikan di Jepang dengan Indonesia. Sama sih secara garis besar, mereka juga memiliki Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA dan Univesitas. Lalu apa bedanya? Bedanya, mereka tidak ada ujian nasional seperti di Indonesia. Saya juga sempat bingung, maka dari itu saya mengobrol dengan teman sekelas saya dan dia memberi saya banyak informasi tentang sistem sekolah di Jepang.
| Ini soal Center Exam |
Kemudian, saat hendak memasuki perkuliahan, selain harus mengikutin Center Exam, siswa Jepang juga harus melalui ujian lain yang diajukan universitas. Ujian kedua ini berbeda-beda untuk setiap universitas yang ingin dimasuki. Dan yang saya dengar, Center Exam untuk SMA sangatlah sulit, bahkan lebih sulit dari Examination for Japanese University (yang bagi saya sangat sulit). Ditambah ujian yang diajukan dari pihak universitas juga pasti lebih sulit dari Center Exam ini.
Memang materi yang diajarkan di sekolah Jepang agak sedikit berbeda dengan sekolah di Indonesia. Kebanyakan sekolah di Indonesia mengutamakan latihan soal dibandingkan pemahaman, sementara sekolah Jepang sebaliknya, lebih mengutamakan konsep.
Selain itu juga, mulainya semester di Jepang berbeda dengan di Indonesia, yaitu dimulai saat musim semi bulan April, dan berakhir di Maret tahun depannya. Libur semester pun sangat berbeda, yaitu libur musim panas pada bulan agustus-september, dan musim dingin bulan februari-maret, sehingga mereka memiliki waktu libur yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan sekolah di Indonesia. Dan lagi, sekolah di Jepang dimulai rata-rata pada pukul 8.45 pagi, dan selesai pada pukul 16.30. Waktu yang cukup cepat untuk sekolah, tidak seperti di Indonesia yang mulai dari jam 7 pagi hingga 5 sore.
Selain perbedaan itu pula, Jepang memiliki banyak jenis seragam. Setiap sekolah memiliki ciri-ciri masing-masing, tapi tetap mempertahankan ciri khas dari SD, SMP dan SMA jepang. Sehingga mudah untuk membedakan murid SD, SMP dan SMA. Setiap sekolah pun memiliki beragam jenis seragam. Karena Jepang adalah negeri 4 musim, maka mereka memiliki seragam musim panas, musim semi/gugur, dan musim dingin.
![]() |
| Keadaan kelas untuk SMA |
![]() |
| Ini beberapa jenis seragam SMA dalam satu sekolah |
![]() |
| Ini seragam SMA saat musim dingin |
![]() |
| Ini seragam SMA musim dingin dan semi |
![]() |
| Ini seragam SMP |
![]() |
| Ini seragam SMP untuk laki-laki |
![]() |
| Ini seragam SD |
![]() |
| Biasanya anak SD punya tas kotak seperti ini |
![]() |
| Yang ini seragam TK |
![]() |
| Terkadang anak TK juga punya tas kotak seperti SD |
Nah itulah beberapa perbedaan sistem pendidikan di Jepang dan Indonesia.
Tertarik?
Salam,
Mitzi Alia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















.jpg)



.jpg)


