Maji de, hisashiburi!
Wah, wah tak terasa seperti sudah berabad abad saya tak menulis apapun. Bukannya tak ada hal istimewa selama 2 bulan terakhir ini, hanya saja waktu berjalan sungguh TERLALU cepat hingga saya tak diperbolehkan untuk bernapas, ah bohong. Tak ada orang yang terlalu sibuk. Sesibuk apapun orang itu, kalau memang penting sih pasti dia akan meluangkan waktunya untuk mengerjakan hal penting itu.
Yah, intinya, saya tak benar-benar menyisihkan waktu saya untuk menulis. Kebetulan sekarang lagi ada mood untuk sharing, yasudah saya tekadkan untuk menulis. Masalah dari semester ini, yang membuat saya begitu sulit untuk meluangkan waktu, adalah saya mengambil 15 course, yaitu sekitar 18 kelas, dan kalau ditotal kira-kira sama kaya 36 sks. Sungguh, memang saya juga yang nekat, tapi saya hanya ingin cepat menyelesaikan semua matkul tambahan di semester ini, jadi saya tak perlu mengambil kelas tambahan lagi tahun depan JIKA dan HANYA JIKA saya dapat semua kredit di semester ini. Maka dari itu, mau tak mau saya harus benar-benar fokus untuk belajar. Sekali pun saya ada waktu istirahat sabtu-minggu, saya gunakan untuk melampiaskan hobi saya (re: nonton anime yang jadi kewajiban saya setiap sabtu-minggu, atau gambar). Maka dari itu, saya tak benar-benar meluangkan waktu untuk menulis blog.
Tapi, sudah 2 bulan terlewatkan. Banyak hal yang terjadi, hingga saya tak tahu harus mulai darimana. Coba saya runutkan dengan baik.
Showing posts with label kyoto university. Show all posts
Showing posts with label kyoto university. Show all posts
Sunday, December 13, 2015
Thursday, October 1, 2015
College Finally Starts
Hallo!
Yah hari ini hari pertama kuliah. Baru saja hari pertama tapi saya sudah mendapatkan tugas buat minggu depan. Yeah, that's Kyoto University for ya.
Anyway, berhubung sudah mulai kuliah, sepertinya kehidupan saya mulai kembali sibuk, dan saya harap bisa menjaga fisik saya supaya kuat. Sudah lama sekali sejak saya melatih fisik saya di Jepang, yah kira-kira 5 minggu di Indonesia saya sama sekali tak melakukan kegiatan fisik yang berat, alhasil saat saya kembali ke kehidupan kampus, saya jadi cepat lelah.
Sebenarnya semester ini cenderung lebih sedikit matkulnya, saya jadi berkeinginan untuk mengikuti salah satu klub di Kyodai, yaitu Art Club. Terdengar menyenangkan karena mereka hanya ngumpul dan melakukan sketsa. Meski begitu, jika suatu saat klub ini mengganggu jadwal belajar saya ya tentu saja saya akan berhenti.
Selain itu, asrama saya mulai kedatangan orang-orang baru yang exchange di Kyodai. Jadi banyak muka-muka baru di sini. Tapi yah, orang tipe seperti saya yang kurang suka dengan sosialisasi sih acuh tak acuh menghadapi mereka.
Welcome party pun mulai diadakan, seperti di PPI, dan juga asrama saya. Lumayan deh dapat makanan gratis haha.
Memasuki musim gugur, suhu di sini mulai turun dengan cepat. Bahkan sekarang pun meski baru awal musim gugur, sudah mencapa 18 derajat celcius. Udara dingin kadang terasa menusuk kalau saya sedang naik sepeda. Mungkin saat musim dingin nanti, saya tak bisa memaksakan diri untuk naik sepeda ke kampus. Karena jujur saja, saya lebih tahan panas daripada dingin.
Yah, sudah saatnya kembali fokus pada apa yang harus saya kerjakan.
Salam,
Mitzi Alia
Yah hari ini hari pertama kuliah. Baru saja hari pertama tapi saya sudah mendapatkan tugas buat minggu depan. Yeah, that's Kyoto University for ya.
Anyway, berhubung sudah mulai kuliah, sepertinya kehidupan saya mulai kembali sibuk, dan saya harap bisa menjaga fisik saya supaya kuat. Sudah lama sekali sejak saya melatih fisik saya di Jepang, yah kira-kira 5 minggu di Indonesia saya sama sekali tak melakukan kegiatan fisik yang berat, alhasil saat saya kembali ke kehidupan kampus, saya jadi cepat lelah.
Sebenarnya semester ini cenderung lebih sedikit matkulnya, saya jadi berkeinginan untuk mengikuti salah satu klub di Kyodai, yaitu Art Club. Terdengar menyenangkan karena mereka hanya ngumpul dan melakukan sketsa. Meski begitu, jika suatu saat klub ini mengganggu jadwal belajar saya ya tentu saja saya akan berhenti.
Selain itu, asrama saya mulai kedatangan orang-orang baru yang exchange di Kyodai. Jadi banyak muka-muka baru di sini. Tapi yah, orang tipe seperti saya yang kurang suka dengan sosialisasi sih acuh tak acuh menghadapi mereka.
Welcome party pun mulai diadakan, seperti di PPI, dan juga asrama saya. Lumayan deh dapat makanan gratis haha.
Memasuki musim gugur, suhu di sini mulai turun dengan cepat. Bahkan sekarang pun meski baru awal musim gugur, sudah mencapa 18 derajat celcius. Udara dingin kadang terasa menusuk kalau saya sedang naik sepeda. Mungkin saat musim dingin nanti, saya tak bisa memaksakan diri untuk naik sepeda ke kampus. Karena jujur saja, saya lebih tahan panas daripada dingin.
Yah, sudah saatnya kembali fokus pada apa yang harus saya kerjakan.
Salam,
Mitzi Alia
Thursday, September 24, 2015
KiDS
Konbanwa!
Sebelumnya, selamat hari raya Idul Adha! Alhamdulillah Idul Adha bisa saya rayakan bersama keluarga di rumah.
Nah berhubungan dengan judul kali ini, KiDS yang saya maksudkan bukan dalam arti "anak-anak", tapi singkatan dari Kyoto University Disaster Prevention School. Nah inilah acara yang saya jalani selama di Jogjakarta. Baru saja kemarin saya kembali dari Jogja setelah menyelesaikan misi yang dibebankan pada 5 orang Indonesia (termasuk saya) dan 5 orang Jepang itu.
Lalu, apasih KiDS ini? Ya, secara kasarnya sih program ini mirip dengan penyuluhan tentang bencana alam ke berbagai SD yang ada kemungkinan rawan bencana. Pendidikan kaya gini sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak sejak dini supaya tingkat kesadaran mereka meningkat dan bisa mengurangi korban yang mungkin berjatuhan jika bencana tersebut datang. Inilah tujuan utama KiDS.
Selain mengunjungi SD untuk penyuluhan, kami juga mengunjungi badan atau organisasi yang bekerja di bidang pengamatan dan mitigasi bencana alam, seperti BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan PSBS UGM (Pusat Studi Bencana Alam UGM).
Sebelumnya, selamat hari raya Idul Adha! Alhamdulillah Idul Adha bisa saya rayakan bersama keluarga di rumah.
Nah berhubungan dengan judul kali ini, KiDS yang saya maksudkan bukan dalam arti "anak-anak", tapi singkatan dari Kyoto University Disaster Prevention School. Nah inilah acara yang saya jalani selama di Jogjakarta. Baru saja kemarin saya kembali dari Jogja setelah menyelesaikan misi yang dibebankan pada 5 orang Indonesia (termasuk saya) dan 5 orang Jepang itu.
Lalu, apasih KiDS ini? Ya, secara kasarnya sih program ini mirip dengan penyuluhan tentang bencana alam ke berbagai SD yang ada kemungkinan rawan bencana. Pendidikan kaya gini sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak sejak dini supaya tingkat kesadaran mereka meningkat dan bisa mengurangi korban yang mungkin berjatuhan jika bencana tersebut datang. Inilah tujuan utama KiDS.
Selain mengunjungi SD untuk penyuluhan, kami juga mengunjungi badan atau organisasi yang bekerja di bidang pengamatan dan mitigasi bencana alam, seperti BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan PSBS UGM (Pusat Studi Bencana Alam UGM).
Friday, August 14, 2015
Katsura Campus Visit
Doumo,
Sudah hampir seminggu, yah sebenarnya saya tak sibuk belajar atau urusan kuliah. Tentu saja, sudah saatnya liburan musim panas! Ya, beberapa hari ini saya lalui dengan jalan-jalan ke berbagai tempat, makanya baru sempat posting lagi. Yap, その話はあとで、今京都大学を話しましょうか。
Katsura Campus, jadi Kyodai itu punya 3 kampus utama, Yoshida, Katsura dan Uji. Sebenarnya 3 nama itu diambil dari lokasinya sih, Yoshida Campus berarti di Yoshida, Katsura Campus berarti di Katsura, dan Uji Campus berarti di Uji. Nah, kampus utama dari engineering itu di Katsura, berarti banyak lab-lab untuk tahun ke 4 yang lokasinya di Katsura. Makanya banyak senpai yang bolak-balik Yoshida-Katsura pas tahun ke 4.
Nah, minggu lalu, 5 agustus 2015, kami mahasiswa Kyodai dari fakultas engineering difasilitasi campus visit dan berkunjung ke Katsura untuk melihat lab-lab yang keren itu. Lumayan jauh yah dari Yoshida, sekitar 40 menit naik bus. Dan bus nya pun sudah disediakan oleh pihak kampus. Siang hari kami berkumpul, sekitar pukul 1 siang, lalu langsung menuju Katsura.
Sunday, July 5, 2015
Du-Nou
Ohayo gozaimasーsu.
Aahh, hari ini minggu, berarti besok senin. Dan saya harus menyelesaikan report kalkulus saya. Ckck, lelah.
Oke mungkin banyak yang berpikir tentang judul kali ini, apaan nih? Bagi yang udah tau, wah kalian hebat! Karena saya juga baru tau istilah ini dari dosen. Jadi ceritanya 2 minggu yang lalu, ada seminar di kelas saya, yang pengisi seminarnya adalah Prof. Makoto Kimura, salah satu profesor geomechanics di Kyodai. Well, saya sangat impressed dari seminarnya. Awalnya saya kira beliau orang yang strict gitu, soalnya pas mau mulai seminar, tiba-tiba beliau marah-marah di kelas kami karena kami waktu itu berisik. Beliau bilang "Kalian ini anak TK ya? Pantes aja sekarang rank civil engineering di Kyodai jadi turun, ya gimana penerusnya aja kaya gini" wah wah, saya langsung mikir, "Hah apa-apaan nih, kenal aja belom udah diginiin". Tapi ternyata setelah kenal, saya malah kagum banget sama beliau.
Oke, jadi seminar beliau itu nyeritain tentang hidup beliau. Tidak juga sih, beliau nyeritain hidup beliau dan projek besar beliau. Beliau udah keliling dunia cuma untuk benerin jalan. Oke ini lucu, dan terdengar biasa aja, gaada yang wah. Tapi, saya sangat kagum dengan pekerjaan beliau. Beliau bilang ini sebagai "hobi" aja buat keliling dunia dan benerin jalan. Padahal sebenernya mah ini pekerjaan luar biasa.
Beliau menciptakan sebuah teknik untuk memperbaiki jalan TANPA menggunakan alat berat yang biasa kita liat di jalan itu loh, buat aspal dll. Beliau buat jalan cuma bermodalkan "Du-Nou". Wah apa itu Du-Nou? Nah inilah yang beliau ciptakan. Du-Nou itu sejenis karung plastik, terbuat dari polipropilen, yang didesain khusus supaya kuat, anti air, dan bisa mencegah lumpur di daerah yang sering ujan. Makanya sering dipake di daerah tertentu untuk pencegahan banjir.
Caranya? Nah plastik-plastik Du-Nou itu nanti diisi tanah, diiket. Jadilah gundukan-gundukan gitu. Jalanan yang rusak nanti digali dengan kedalaman tertentu, terus gundukan Du-Nou nya disusun rapi di jalanan itu, secara rapat. Setelah disusun, Du-Nou nya di compact supaya datar dan kuat. Nah, bagian paling atasnya, dilapisin lagi sama tanah supaya ketutup plastik Du-Nou nya. Jadilah jalan yang kuat dan tahan lama!
Terdengar sederhana ya, terus buat apa sih perbaikin jalan sampe keliling dunia? Beliau bilang sih ini hobi aja, padahal mah ada alasannya juga. Kalian tahu, di negara yang masih kurang maju, banyak orang-orang kesusahan untuk mendapatkan sumber air, kesehatan, dan makanan. Mereka harus melalui jalur-jalur jauh hanya untuk mencukupi kebutuhan mereka. Jalan yang mereka lewati itu kebanyakan hanya terbuat dari tanah yang rawan. Ini artinya kalau musim ujan atau badai gitu, jalanan bisa rusak dan lubang-lubang besar terbentuk. Tentunya ini menghambat mereka untuk mendapatkan kebutuhan mereka, mereka tak bisa melalui jalan itu untuk mendapatkan makanan, air, atau yang lebih parah untuk penanganan orang yang sedang kritis. Karena itulah, penghubungan, pembangunan, dan perbaikan jalan sangat penting bukan?
Selain hal itu juga, Du-Nou ini dikembangan supaya semua orang bisa melakukannya. Dari sinilah small civil engineers terbentuk. Prof. Kimura melahirkan teknik sipil kecil dengan memberi mereka pengetahuan untuk memperbaiki jalanan mereka sendiri. Dengan begini, orang-orang itu tak lagi bergantung pada siapapun, mereka bisa membantu desa mereka sendiri.
Dan setelah adanya perbaikan jalan ini, aktivitas ekonomi, sosial dan kesehatan di negara-negara yang telah dikunjungi menjadi lebih berkembang tentunya. Mendengar hal ini, saya sangat terkagum-kagum. Pekerjaan beliau sangatlah mulia. Beliau bahkan tidak menagih apapun setiap kali kunjungan ke negara-negara tersebut. Ini hanya "hobi" beliau untuk menyebarkan metode Du-Nou ke seluruh dunia, begitu katanya. Beliau juga berceletuk, "Dari 'Don't know' (re:donno), jadi 'Do know' (re:dunou) yang terakhir 'Do now' (re:dunau)" dan seisi kelas pun tertawa.
Wah, wah, memang sungguh semua Profesor Kyodai itu luar biasa ya. Saya tidak sabar untuk belajar lebih dalam di kampus ini.
Salam,
Mitzi Alia.
Aahh, hari ini minggu, berarti besok senin. Dan saya harus menyelesaikan report kalkulus saya. Ckck, lelah.
Oke mungkin banyak yang berpikir tentang judul kali ini, apaan nih? Bagi yang udah tau, wah kalian hebat! Karena saya juga baru tau istilah ini dari dosen. Jadi ceritanya 2 minggu yang lalu, ada seminar di kelas saya, yang pengisi seminarnya adalah Prof. Makoto Kimura, salah satu profesor geomechanics di Kyodai. Well, saya sangat impressed dari seminarnya. Awalnya saya kira beliau orang yang strict gitu, soalnya pas mau mulai seminar, tiba-tiba beliau marah-marah di kelas kami karena kami waktu itu berisik. Beliau bilang "Kalian ini anak TK ya? Pantes aja sekarang rank civil engineering di Kyodai jadi turun, ya gimana penerusnya aja kaya gini" wah wah, saya langsung mikir, "Hah apa-apaan nih, kenal aja belom udah diginiin". Tapi ternyata setelah kenal, saya malah kagum banget sama beliau.
| Ini Prof. Kimura (source) |
| Ini saat beliau perbaikin jalan (source) |
| Inilah Du-Nou (source) |
![]() |
| Ini artikel tentang Du-Nou |
![]() |
| Penjelasan tentang Du-Nou |
| Nah ini cara bangun Du-Nou |
Selain hal itu juga, Du-Nou ini dikembangan supaya semua orang bisa melakukannya. Dari sinilah small civil engineers terbentuk. Prof. Kimura melahirkan teknik sipil kecil dengan memberi mereka pengetahuan untuk memperbaiki jalanan mereka sendiri. Dengan begini, orang-orang itu tak lagi bergantung pada siapapun, mereka bisa membantu desa mereka sendiri.
Dan setelah adanya perbaikan jalan ini, aktivitas ekonomi, sosial dan kesehatan di negara-negara yang telah dikunjungi menjadi lebih berkembang tentunya. Mendengar hal ini, saya sangat terkagum-kagum. Pekerjaan beliau sangatlah mulia. Beliau bahkan tidak menagih apapun setiap kali kunjungan ke negara-negara tersebut. Ini hanya "hobi" beliau untuk menyebarkan metode Du-Nou ke seluruh dunia, begitu katanya. Beliau juga berceletuk, "Dari 'Don't know' (re:donno), jadi 'Do know' (re:dunou) yang terakhir 'Do now' (re:dunau)" dan seisi kelas pun tertawa.
Wah, wah, memang sungguh semua Profesor Kyodai itu luar biasa ya. Saya tidak sabar untuk belajar lebih dalam di kampus ini.
Salam,
Mitzi Alia.
Friday, June 26, 2015
Moslem in Kyoto
Oyasumi.
Tanya jam berapa, maka ini sudah jam 23.37 di tempat saya. Akhir-akhir ini saya banyak tugas. Yah, bukan akhir-akhir ini saja, saya memang selalu banyak tugas, tapi kali ini lebih banyak lagi. Ada 6 report yang harus saya tulis, 3 presentasi yang harus saya siapkan, dan 1 portfolio yang harus dikerjakan. Oke, dalam waktu 2 minggu, saya harus sanggup menyelesaikannya. Mustahil? Mungkin. Tapi tentu saja tak akan selesai jika saya hanya memikirkan apa yang harus saya kerjakan.
Puasa pun telah dimulai. Baru seminggu saya melaui puasa di negeri orang. Rasanya saya rindu ta'jil yang biasa saya dapat di rumah, rindu makanan Indonesia yang bisa memuaskan lidah saya. Ah, tak ada gunanya pula membayangkan hal itu. Puasa mulai terasa berat, suhu di sini semakin memanas, dehidrasi pun semakin cepat. Saya harus bertahan dengan cuaca ini, puasa selama 16 jam, subuh jam 2.55 dan maghrib jam 19.15. Yah, berat sih, tapi apa boleh buat kan. Mengeluh juga tak meringankan beban. Selagi saya bisa, tertawalah untuk kesulitan ini.
Oke, cukup ceritanya, kali ini saya akan membahas sedikit tentang kehidupan muslim di Kyoto. Sebenarnya cukup mudah. Walau tidak semudah di Indonesia, tapi kami masih bisa menemukan makanan halal, restoran halal, bahkan kami memiliki masjid (mungkin setara dengan musholla kalau di Indonesia) yang juga memiliki kooperasi yang kebanyakan isinya makanan Indonesia. Mungkin karena muslim di sini didominasi oleh orang Indonesia, makanya makanannya juga kebanyakan dateng dari Indonesia. Bagi cowok, keberadaan tempat ini pasti sangat melegakan, karena mereka harus solat jumat tiap minggu kan.
Kadang juga PPI Kyoto mengadakan pengajian bersama di daerah tertentu, beberapa juga saling tukar pendapat tentang masakan, dan toko-toko tertentu yang menjual makanan atau bahan halal. Saya juga baru menemukan site yang khusus mensupport kehidupan muslim di Kyoto, di sini.
Di Kyodai sendiri, cuma ada 2 tempat untuk solat. Dan saya rasa itu bukan 'officialy' buat solat sih. Tapi kebanyakan orang solat disitu, kadang zuhur biasanya kita jamaah 4 orang lah.
Setidaknya saya tidak merasa terlalu kesulitan. Di bulan puasa ini pun beberapa teman juga tau tentang Ramadhan. Jadi saya tak perlu banyak menjelaskan tentang apa itu puasa pada mereka, mereka paham kalau kita 'tak boleh makan saat matahari di langit'.
Sabtu kemarin, 20 Juni 2015, PPI Kyoto sudah mengadakan buka bersama Alhamdulillah. Banyak banget makanannya, sampai saya kenyang banget. Bahkan makanannya masih sisa, dan kami bisa membungkusnya pulang untuk sahur atau buka besoknya. Semua makanan ini dibuat sama warga Indonesia. Mereka benar-benar mempersiapkan acara ini.
Memuaskan lah program seperti ini. Sabtu ini juga sebenarnya akan ada buka bersama, tapi bukan di Kyoto, jadi terlalu jauh buat saya untuk ke sana. Mungkin kali ini saya tidak ikut. Selain karena jauh, masih banyak tugas saya juga yang menunggu diselesaikan.
Selain itu, saya juga membeli kurma di kooperasi masjid. Tapi tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia, yaitu sekitar ¥1,200 untuk 1kg. Karena terlalu banyak, saya pun patungan dengan senpai-chan. Ups, maaf, saya biasa memanggilnya begitu. Dia senpai tahun ke-4, satu-satunya senpai yang dekat dengan saya mungkin. Saya sudah banyak merepotkannya, saya harap suatu saat bisa membalas kebaikannya.
Oke mungkin cukup dulu infonya. Yang jelas, menjadi muslim di sini tidak sesulit yang dibayangkan, karena kami punya kumpulan PPI Kyoto yang mayoritas muslim. Jadi tidak ada masalah untuk makanan, solat, puasa dan hal lainnya.
Salam,
Mitzi Alia.
Tanya jam berapa, maka ini sudah jam 23.37 di tempat saya. Akhir-akhir ini saya banyak tugas. Yah, bukan akhir-akhir ini saja, saya memang selalu banyak tugas, tapi kali ini lebih banyak lagi. Ada 6 report yang harus saya tulis, 3 presentasi yang harus saya siapkan, dan 1 portfolio yang harus dikerjakan. Oke, dalam waktu 2 minggu, saya harus sanggup menyelesaikannya. Mustahil? Mungkin. Tapi tentu saja tak akan selesai jika saya hanya memikirkan apa yang harus saya kerjakan.
Puasa pun telah dimulai. Baru seminggu saya melaui puasa di negeri orang. Rasanya saya rindu ta'jil yang biasa saya dapat di rumah, rindu makanan Indonesia yang bisa memuaskan lidah saya. Ah, tak ada gunanya pula membayangkan hal itu. Puasa mulai terasa berat, suhu di sini semakin memanas, dehidrasi pun semakin cepat. Saya harus bertahan dengan cuaca ini, puasa selama 16 jam, subuh jam 2.55 dan maghrib jam 19.15. Yah, berat sih, tapi apa boleh buat kan. Mengeluh juga tak meringankan beban. Selagi saya bisa, tertawalah untuk kesulitan ini.
Oke, cukup ceritanya, kali ini saya akan membahas sedikit tentang kehidupan muslim di Kyoto. Sebenarnya cukup mudah. Walau tidak semudah di Indonesia, tapi kami masih bisa menemukan makanan halal, restoran halal, bahkan kami memiliki masjid (mungkin setara dengan musholla kalau di Indonesia) yang juga memiliki kooperasi yang kebanyakan isinya makanan Indonesia. Mungkin karena muslim di sini didominasi oleh orang Indonesia, makanya makanannya juga kebanyakan dateng dari Indonesia. Bagi cowok, keberadaan tempat ini pasti sangat melegakan, karena mereka harus solat jumat tiap minggu kan.
| Ini musholla nya |
| Pintu masuknya |
Di Kyodai sendiri, cuma ada 2 tempat untuk solat. Dan saya rasa itu bukan 'officialy' buat solat sih. Tapi kebanyakan orang solat disitu, kadang zuhur biasanya kita jamaah 4 orang lah.
![]() |
| Lokasi musholla di Kyodai |
Sabtu kemarin, 20 Juni 2015, PPI Kyoto sudah mengadakan buka bersama Alhamdulillah. Banyak banget makanannya, sampai saya kenyang banget. Bahkan makanannya masih sisa, dan kami bisa membungkusnya pulang untuk sahur atau buka besoknya. Semua makanan ini dibuat sama warga Indonesia. Mereka benar-benar mempersiapkan acara ini.
| Agar-agar |
| Makanan utama |
| Makanan utama |
| Beberapa orang sudah menunggu buka |
| BAHKAN ADA YANG BUAT PEMPEK |
Selain itu, saya juga membeli kurma di kooperasi masjid. Tapi tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia, yaitu sekitar ¥1,200 untuk 1kg. Karena terlalu banyak, saya pun patungan dengan senpai-chan. Ups, maaf, saya biasa memanggilnya begitu. Dia senpai tahun ke-4, satu-satunya senpai yang dekat dengan saya mungkin. Saya sudah banyak merepotkannya, saya harap suatu saat bisa membalas kebaikannya.
![]() |
| Kurma yang saya beli, eh 'kami' beli |
Salam,
Mitzi Alia.
Labels:
halal,
kyoto,
kyoto university,
muslim,
PPI Kyoto
Sunday, June 21, 2015
Welcome Party
Halo.
Karena saya sudah lama sekali tidak posting, akhirnya banyak postingan tertunda. Oke kali ini saya akan bercerita sedikit tentang welcome party yang rabu lalu, 17 Juni 2015, saya hadiri.
Pesta ini ditujukan untuk semua international freshmen dan exchange students. Awalnya saya ragu untuk menghadiri acara ini, karena saya pasti beresiko untuk pulang malam naik sepeda. Tapi karena saya sudah mengisi data kehadiran 2 minggu yang lalu, mau tak mau saya harus ikut acara ini.
Dibilang welcome party, tapi saya sudah 2 bulan disini. Mungkin lebih tepat kalau dibilang after midterm party ya, karena minggu lalu saya baru saja menghadapi ujian tengah semester. Dan di saat itulah saya sangat hectic dan 'stress'. Tentu saja stress ya, karena ini adalah ujian pertama saya. Saya sama sekali tak ada bayangan tentang jenis soal, penilaiannya, dan jumlah soal yang akan keluar. Maka dari itulah saya merasa sangat tertekan. Ditambah pula, saya menghadapi 2 UTS sekaligus di hari yang sama, UTS fisika dan UTS algebra. Sangat menjadi beban. Tapi setelah hal itu berlalu, rasanya saya menjadi lebih ringan.
Oke, akhirnya saya pun menghadiri acara welcome party ini. Saya bertemu beberapa orang Indonesia yang biasa saya temui saat acara kumpul PPI Kyoto. Ternyata banyak juga ya orang Indonesia, bahkan ada beberapa yang belum saya kenali. Welcome party ini dimulai ja, 18.30, setelah pembukaan oleh President of Kyoto University. Sungguh kehormatan bagi saya untuk bisa berjumpa dengan President of Kyodai sedekat ini. Tak semua orang mendapat kesempatan langka seperti ini. Dan saya baru sadari, inilah kelebihan dari international students. Kami sangat disambut dan dihormati oleh mereka.
| Ini President of Kyoto University |
| Ini hall Welcome Party yang digunakan |
| Makanan yang dihidangkan |
Selain berbicara dengan orang-orang, pihak Kyodai juga mengadakan pertunjukan kecil, seperti tarian Jepang, nyanyian, dan trik-trik unik (yang saya tak tau apa namanya, mereka hanya memainkan bola dan kotak, seperti sirkus).
Sekitar jam 20.30, pesta pun selesai, dan kami dipersilakan untuk pulang, sebab ruang hall yang dijadikan tempat pesta akan segera dibersihkan dan ditutup.
Acara yang menarik, sayangnya karena terlalu menikmati acara tersebut, saya tidak terlalu banyak mengambil foto.
Salam,
Mitzi Alia
Friday, May 22, 2015
Structural Engineering
Hisashiburi ne.
Wah sudah 2 minggu sejak golden week. Yah, sangat sibuk. Bentar lagi sudah masuk minggu midterm. Tak heran sebagian dosen memperbanyak PR, report, dan tugas presentasi. LELAH KAWAN. Yah, inilah rasanya kuliah di negeri orang. Kupu-kupu ya, bisa dibilang gitu. Sekalinya ada hari libur seperti sabtu dan minggu pun saya gunakan untuk mengerjakan tugas minggu depan, supaya tidak numpuk di waktu deadline. Selain tugas juga saya harus belajar sedikit demi sedikit, mempersiapkan ujian nanti. Saya juga ikut les privat bahasa Jepang, dan sensei meminta saya untuk menghapalkan 128 kanji. Oke, saya tak lagi punya waktu santai.
Yah, selain kesibukan yang saya lewati akhir-akhir ini, saya baru saja dikenalkan dengan kelas structural engineering. Seperti judul post kali ini, saya sangat tertarik dengan major ini, sesungguhnya. Karena tentunya Jepang sudah sangat terkenal dengan berbagai structure yang telah mereka buat dan memiliki kemampuan tingkat atas, contohnya saja seperti skyscraper, bridge, dam, rock anchor, water tunnel, underwater tunnel, dan sebagainya.
Mengikuti kelas ini, telah memberi saya lebih banyak wawasan tentang structural engineering. Dosen saya membagi kelas dengan kelompok yang terdiri dari 2 orang, oke maksudnya berpasangan. Dan masing-masing dari kami harus mempresentasikan sebuah struktur, bagaimana cara kerjanya, bahannya, juga case study-nya. Karena hasil dari presentasi itu yang paling menarik bagi saya adalah mekanisme skyscraper, maka saya hanya akan membahas skyscraper kali ini.
Banyak dari teman-teman saya mempresentasikan skyscraper tertinggi di dunia, seperi Tokyo Skytree di Tokyo (634m), Burj Khalifa di Dubai (830m) dan Canton Tower di Guangdong (600m). Mereka menceritakan mekanisme pembuatan gedung tersebut sehingga bisa tahan dengan hempasan angin, getaran tektonik, dan juga cara menjaga kestabilan gedung agar tetap berdiri menjulang.
![]() |
| Tokyo Skytree |
| Canton Tower |
| Burj Khalifa |
Saya juga baru tau ada mekanisme bernama "tuned mass damper" yang biasanya diposisikan di bagian atas skyscraper yang berfungsi untuk menjaga kestabilan gedung tersebut. Caranya yaitu, ketika gedung tersebut mengalami goyangan ke kanan, bola damper ini akan bergerak ke kiri, dan juga sebaliknya, sehingga meniadakan goyangan yang dirasakan gedung.
| Contoh mass dumper |
| Mass dumper dari dekat |
| Ini cara kerja mass dumper |
Selain karena mekanisme itu, skyscraper tersebut juga punya ciri khas masing-masing untuk mempertahankan gedungnya. Contohnya, Tokyo Skytree dengan bentuk tripoid nya, yaitu desain yang dibuat mirip dengan tripod kamera. Tokyo Skytree memiliki fondasi yang kuat, dilambangkan seperti akar yang kuat untuk menopang pohon besar.
| Bentuk fondasi Tokyo Skytree |
| Struktur tripoid Tokyo Skytree |
Sementara Canton Tower memiliki bagian "twist" di tengah gedungnya, yang merubah arah oval bagian dasarnya. Canton pada dasarnya hanya terdiri dari 3 pattern, yaitu columns, rings, dan braces. Pattern ini disusun sedemikian rupa, menghasilkan struktur geometri yang rumit dan kuat.
| Struktur Canton dari atas |
| Ini bagaimana "twist" Canton didasari |
Umumnya, gedung skyscraper memiliki celah-celah atau pattern-pattern steel seperti Tokyo Skytree dan Canton Tower di bagian luar gedung, untuk mengurangi kecepatan angin yang datang dengan memecahnya di bagian celah-celah pattern steel tersebut. Tapi, tidak bagi Burj Khalifa yang memiliki konsep lain untuk meminimalisir hempasan angin yang menerpa gedung setinggi 830m ini.
Burj Khalifa didesain sangat unik, membentuk segitiga yang berbeda dengan Tokyo Skytree. Bentuk yang unik ini, selain menjadi ciri khas Burj Khalifa, juga menjadi sanggahan yang kuat untuk menahan gedung tertinggi di dunia ini.
| Ini dasar bentuk Burj Khalifa |
Desain Burj Khalifa sangat unik, saya pun terpesona melihat kehebatan mekanisme gedung tersebut. Segitiga itu juga tidak hanya untuk memperkuat fondasi gedung, tapi juga untuk memecah kecepatan angin yang menabrak gedung, karena seifat fluida udara, yang akan terpecah bila menabrak ujung segitiga, dan juga akan memperlambatnya ke arah lain.
| Bentuk unik Burj Khalifa |
![]() |
| Mekanisme angin yang dihadapi Burj Khalifa |
Saya sangat beruntung bisa mengetahui hal ini, dan saya senang bisa mempelajari banyak dari kelas ini. Saya berharap bisa terus memahami structural engineering, sehingga saya bisa menerapkannya di Indonesia kelak.
Sebagai penutup, ini beberapa perbandingan skyscraper di dunia.
Salam,
Mitzi Alia.
Sunday, April 12, 2015
International Course Program of Civil Engineering
Panjang ya? Lumayan. Itu adalah nama kelas saya selama berkuliah di Kyoto University. Tidak banyak dari mahasiswa lokal Kyodai yang mengetahui adanya International Course di Kyodai. Setiap tahun bisa berbeda-beda jumlah muridnya, tergantung penerimaannya. Tahun saya, kelas ini berisikan 14 orang internasional dan 10 orang Jepang. Lumayan banyak bukan orang Jepangnya? Seperti yang sudah saya jelaskan bahwa kelas ini termasuk dalam program Global 30 milik pemerintah Jepang.
Tentunya banyak perasaan bergejolak saat saya diterima kampus ini, perasaan bahagia karena akhirnya saya bisa bersekolah di Jepang, perasaan sedih karena harus meninggalkan tanah air, dan perasaan takut untuk menghadapi rintangan di sana.
Awal kali pertama saya bertemu dengan teman sekelas adalah dengan beberapa anak yang tinggal di dorm yang sama dengan saya. Meski tidak semua anak internasional tinggal di sana. Berikutnya kami berkenalan lebih banyak saat health check up. Kebetulan sekali bahwa kita bertemu saat sedang antri untuk health check up. Kami pun berkenalan, dan pada hari yang sama, Kyodai sedang mengadakan sejenis open recruitment bagi yang ingin mengikuti club di Kyodai. Karena itulah kampus sangat ramai dengan mahasiswa. Mungkin sama dengan saat Open House Unit ketika di ITB.
Setelah health check up, saya dan beberapa teman sekelas saya berkeliling Kyodai untuk menyaksikan keramaian tersebut. Saya sebenarnya hendak mengikuti club, tapi saya takut karena saya tidak bisa berbahasa Jepang. Ada banyak sekali club di Kyodai, mulai dari sports, arts, dan music, bahkan di bagian sport ada seperty rugby, american football, skating, skiing, rowing, lacrose, sumo, kendo, aikido, dan masih banyak lagi olahraga yang tidak ada di Indonesia. Setelah puas berkeliling, kami pun berpisah. Sebab saya harus mengantar kepulangan ibu saya kembali ke Indonesia. Sedih, tapi saya harus bertahan, karena bersekolah di Jepang adalah hal yang saya inginkan. Tidak mungkin saya menunjukan wajah sedih kepada ibu saya yang hendak meninggalkan saya sendiri di negeri orang.
Hari-hari berikutnya saya lalui sendiri, ya bersama teman seperjuangan saya yang sama-sama dari Indonesia. Untungnya ada banyak senpai dari Indonesia yang berasal dari course yang sama seperti saya, sehingga saya bisa banyak bertanya jika ada hal yang saya bingungkan.
Sama seperti kampus di Indonesia, Kyodai pun memiliki opening ceremony untuk semua mahasiswanya. Yang berbeda adalah pakaian yang digunakan untuk menghadiri acara tersebut, yaitu setelan jas berwarna hitam. Mungkin memang tidak diharuskan berwarna hitam, tapi berwarna gelap. Kebanyakan memang menggunakan warna hitam. Opening ceremony tidak berlangsung di wilayah kampus, tapi di suatu gedung bernama Miyako Messe. Tidak berlangsung lama, hanya sebuah pidato panjang berbahasa Jepang dari president of Kyodai, dan opening ceremony pun selesai.
| Inilah suasana opening ceremony |
Setelah opening ceremony selesai, kami berjalan menuju kampus, untuk menghadiri guidance. Guidance pertama adalah untuk seluruh mahasiswa engineering di Kyodai, dalam bahasa Jepang. Guidance kedua adalah untuk International Couse, berbahasa inggris. Kami mempelajari bayak hal mengenai course ini dan beberapa peraturan penting seperti syarat lulus, lokasi kelas, timeline perkuliahan dan mata kuliah yang harus diambil. Pada dasarnya, mata kuliah yang kami ambil telah diatur oleh pihak universitas. Tapi kami harus tetap menambahkan beberapa matkul untuk memenuhi kuota ‘syarat lulus’. Dan setelah dihitung-hitung, saya mengambil 31 sks untuk semester 1 ini. Angka yang cukup banyak bila dibandingkan dengan sks kebanyakan di Indonesia. Tapi tentunya matkul yang saya ambil di awal ini kebanyakan adalah mata kuliah social sebagai tambahan. Sehingga belum terlalu rumit dalam pembahasannya.
Setelah guidance tersebut, ada welcome party yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa international course dari angkatan pertama sampai angkatan saya, juga profesor yang akan mengajar di kelas nanti. Ini adalah ajang untuk saling mengenal satu sama lain tentunya.
| This is my classmate! |
| Ini foto setelah welcome party |
| Inilah seluruh International Course dari angkatan pertama |
Kelas saya untungnya kelas yang paling banyak memiliki perempuan jika dibandingkan dengan kelas sebelum-sebelumnya. Sungguh beruntung. Kelas saya terdiri dari 2 orang Indonesia, 1 orang Mongol, 1 orang Korea, 1 orang Mesir, 10 orang Jepang, dan 9 orang cina. Dari semua itu, 8 orang adalah perempuan.
Hal paling menakjubkan dari perantau dan menjadi minoritas adalah, ketika saya bertemu orang Indonesia entah kenapa saya merasa sangat bahagia, seperti bertemu sahabat lama. Dan kami akan cepat akrab layaknya keluarga. Kami pun bisa langsung tahu dengan sekali tatap mata, bahwa kami dari tanah air yang sama. Ini sungguh perasaan yang sangat menakjubkan dan baru bagi saya.
Ya, itu cuplikan beberapa kisah dan pengalaman saya di awal adaptasi di negeri ini.
Salam,
Mitzi Alia.
Subscribe to:
Posts (Atom)





