Sunday, June 28, 2015

Spending Weekend

Belum, emang belum sih saatnya long weekend.
Maksud saya di sini adalah, bagaimana saya spending time in my precious Saturday and Sunday.

Sebelumnya saya mau cerita, tanpa saya sadari, ternyata saya memang under pressure and stressed out. Berkali-kali saya berusaha mengelak perasaan ini, tapi ternyata tubuh tidak bisa bohong ya. Saya tiba-tiba sakit sesaat, dan hormon bekerja lebih cepat dari biasanya (untuk cewek pasti paham ini). Saya sendiri juga syok ternyata stress benar bisa mengakibatkan hal macam ini. Lalu apa yang membuat saya tertekan? Oh yah, sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa tugas saya semakin banyak, mau tak mau otak saya hanya dipenuhi jadwal deadline tugas. Mencari-cari waktu untuk mengerjakannya, tapi juga menyisihkan waktu untuk belajar mandiri. Ternyata, ini saja tak cukup, jumat kemarin, saya baru dibagikan hasil midterm algebra saya, dan alhasil nilai saya hanya setengah dari sempurna. Sementara ada teman saya yang mendapatkan sempurna. Skor report untuk matkul lain juga dibagikan, hasilnya tidak jelek, tapi melihat teman saya yang dapat lebih tinggi, membuat saya berpikir 'oh, apa yang salah dengan report saya? Apa yang membuat report-nya lebih unggul dari saya? Perasaan saya sudah melakukan yang terbaik'. Hal ini membuat saya frustasi. Semakin lama semakin menumpuk, akhirnya, yah, begitulah.

Saya tak berani cerita ke siapa-siapa. Bukannya saya tidak mau. Cerita ke orang tua, hanya akan membuat mereka khawatir. Cerita ke senpai, saya akan dibalas dengan 'kamu kan masih taun pertama, apasih yang distresin? Taun pertama mah main-main aja dulu', dan itu karena mereka memiliki beban yang lebih dari saya, dan saya harus tau diri, saya tak mungkin membagi beban sepele saya ke mereka yang punya lebih banyak. Teman-teman saya, yah, saya memang tak punya teman disini.

Tapi pada akhirnya, karena saya tak bisa menahannya, akhirnya senpai-chan lah yang kena ciprat badmood saya. Yah, merasa bersalah juga sih, tapi untungnya dia mendukung saya dan membuat saya merasa lebih lega. 

Pada akhirnya, orang yang tak mau saya beritau tentang weak point dan masalah stres ringan saya ini pun saya beritau. Maaf kalau saya membebanimu lagi, Sirsak. Lain kali saya akan lebih berusaha menahan emosi supaya ga cepet stres. But well, easier to say than to be done. Pada dasarnya saya emang cepet stres sih, jadi dapet tekanan sedikit juga langsung berefek.

Selain itu, saya ingat Sirsak pernah berkata kalau dia ingin sekolah di tempat dimana ia dipaksa membaca jurnal dan research sebanyak mungkin untuk bisa menyelesaikan tugas atau sekedar mempelajari matkul terntentu. Sekarang rasanya saya merasakan hal itu, dan saya mau mati. Yah, mungkin karena tak terbiasa aja sih, jadinya waktu dikasih tugas yang dosennya selalu bilang 'I want you to make a small research about this kind of topic. Please find and give a conclusion' malah bikin saya stres.
Nah ini dosen yang selalu bilang kaya gitu
Yah, sekilas cerita. Kembali ke topik utama.

Jumat adalah hari yang selalu saya tunggu, soalnya hari jumat saya hari memiliki 3 kelas dan bisa pulang sore. Biasanya saya menggunakan waktu jumat sore sampai malam jika ada party atau sekedar jalan-jalan. Mengapa saya suka jumat? Karena hari sabtu libur, dan hari senin masih lama, makanya saya bisa sedikit relax. Tapi kebalikannya, saya entah kenapa jadi benci minggu, karena besoknya senin, dan saya harus memulai minggu kuliah lagi, menghadapi kalkulus lagi di hari senin. 

Makanya, untuk menghabiskan hari sabtu dan minggu yang indah, biasanya saya balas dendam. Saya memaksimalkan sabtu-minggu untuk waktu tidur, waktu nyuci, waktu gambar, waktu belajar, dan waktu ngerjain tugas. Soalnya hari lain bakal ga fokus karena mikirin matkul hari esoknya. 
Mengerjakan tugas selagi bisa
Kadang, hari minggu saya gunakan untuk main basket di Higashiyama Gym. Ga sama orang Indonesia aja, ada beberapa orang Jepang juga. Sejenis circle gitu lah. Tapi range umurnya random banget sih, yang cewe selain saya itu ada Akou-san, umurnya udah 34 taun tapi masih lincah banget mainnya, bahkan saya aja kalah staminanya.


Ini lapangan indoor nya
Nah ini saat mereka lagi main dan saya istirahat
Abis basket biasanya saya makan sore menjelang malem gitu sama senpai-chan. Ohya, senpai-chan juga main soalnya. Jadi kadang karena laper, kami nyari makan deket situ. Yang murah aja, paling sushi atau udon lah.


Restoran sushi
Saya emang norak, gatau kalau resto sushi modelnya gini
Sushi yang normal, saya lupa namanya
Sushi dengan smoked tuna
Saya habis 6 piring
Toko Udon
Satu porsi torotama udon
Kadang beli taiyaki, ini tokonya
Ini taiyaki-nya
Selain main basket, kadang juga saya pergi jalan-jalan atau belanja gitu, ngusir penat. Tapi paling ampuh sih kalau main basket. Selain bikin badan sehat, setelahnya juga saya merasa lebih lega dan bersemangat. Atau selain semua hal itu, tentunya saya menyempatkan waktu untuk mengasah hobi saya, yaitu menggambar. Kadang saya juga belanja untuk membeli alat gambarnya.
Alat gambar yang saya beli, lebih murah dari di Indonesia
Salah satu hasil karya saya
Nah itulah cara saya untuk spending weekend. Termasuk hari ini. Dan, minggu malam adalah saat yang paling tak saya suka, karena saya harus menyelesaikan report kalkulus saya, yang selalu tak selesai meski sudah seminggu berusaha saya kerjakan.

Mungkin sampai sini dulu, berikutnya saya ceritakan tentang weekday saya yang membosankan dan matkul yang saya ambil.

Salam,
Mitzi Alia

Friday, June 26, 2015

Moslem in Kyoto

Oyasumi.

Tanya jam berapa, maka ini sudah jam 23.37 di tempat saya. Akhir-akhir ini saya banyak tugas. Yah, bukan akhir-akhir ini saja, saya memang selalu banyak tugas, tapi kali ini lebih banyak lagi. Ada 6 report yang harus saya tulis, 3 presentasi yang harus saya siapkan, dan 1 portfolio yang harus dikerjakan. Oke, dalam waktu 2 minggu, saya harus sanggup menyelesaikannya. Mustahil? Mungkin. Tapi tentu saja tak akan selesai jika saya hanya memikirkan apa yang harus saya kerjakan.

Puasa pun telah dimulai. Baru seminggu saya melaui puasa di negeri orang. Rasanya saya rindu ta'jil yang biasa saya dapat di rumah, rindu makanan Indonesia yang bisa memuaskan lidah saya. Ah, tak ada gunanya pula membayangkan hal itu. Puasa mulai terasa berat, suhu di sini semakin memanas, dehidrasi pun semakin cepat. Saya harus bertahan dengan cuaca ini, puasa selama 16 jam, subuh jam 2.55 dan maghrib jam 19.15. Yah, berat sih, tapi apa boleh buat kan. Mengeluh juga tak meringankan beban. Selagi saya bisa, tertawalah untuk kesulitan ini.

Oke, cukup ceritanya, kali ini saya akan membahas sedikit tentang kehidupan muslim di Kyoto. Sebenarnya cukup mudah. Walau tidak semudah di Indonesia, tapi kami masih bisa menemukan makanan halal, restoran halal, bahkan kami memiliki masjid (mungkin setara dengan musholla kalau di Indonesia) yang juga memiliki kooperasi yang kebanyakan isinya makanan Indonesia. Mungkin karena muslim di sini didominasi oleh orang Indonesia, makanya makanannya juga kebanyakan dateng dari Indonesia. Bagi cowok, keberadaan tempat ini pasti sangat melegakan, karena mereka harus solat jumat tiap minggu kan.
Ini musholla nya
Pintu masuknya
Kadang juga PPI Kyoto mengadakan pengajian bersama di daerah tertentu, beberapa juga saling tukar pendapat tentang masakan, dan toko-toko tertentu yang menjual makanan atau bahan halal. Saya juga baru menemukan site yang khusus mensupport kehidupan muslim di Kyoto, di sini.

Di Kyodai sendiri, cuma ada 2 tempat untuk solat. Dan saya rasa itu bukan 'officialy' buat solat sih. Tapi kebanyakan orang solat disitu, kadang zuhur biasanya kita jamaah 4 orang lah.
Lokasi musholla di Kyodai
Setidaknya saya tidak merasa terlalu kesulitan. Di bulan puasa ini pun beberapa teman juga tau tentang Ramadhan. Jadi saya tak perlu banyak menjelaskan tentang apa itu puasa pada mereka, mereka paham kalau kita 'tak boleh makan saat matahari di langit'.

Sabtu kemarin, 20 Juni 2015, PPI Kyoto sudah mengadakan buka bersama Alhamdulillah. Banyak banget makanannya, sampai saya kenyang banget. Bahkan makanannya masih sisa, dan kami bisa membungkusnya pulang untuk sahur atau buka besoknya. Semua makanan ini dibuat sama warga Indonesia. Mereka benar-benar mempersiapkan acara ini.
Agar-agar
Makanan utama
Makanan utama
Beberapa orang sudah menunggu buka
BAHKAN ADA YANG BUAT PEMPEK
Memuaskan lah program seperti ini. Sabtu ini juga sebenarnya akan ada buka bersama, tapi bukan di Kyoto, jadi terlalu jauh buat saya untuk ke sana. Mungkin kali ini saya tidak ikut. Selain karena jauh, masih banyak tugas saya juga yang menunggu diselesaikan.

Selain itu, saya juga membeli kurma di kooperasi masjid. Tapi tentu saja harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia, yaitu sekitar ¥1,200 untuk 1kg. Karena terlalu banyak, saya pun patungan dengan senpai-chan. Ups, maaf, saya biasa memanggilnya begitu. Dia senpai tahun ke-4, satu-satunya senpai yang dekat dengan saya mungkin. Saya sudah banyak merepotkannya, saya harap suatu saat bisa membalas kebaikannya.
Kurma yang saya beli, eh 'kami' beli
Oke mungkin cukup dulu infonya. Yang jelas, menjadi muslim di sini tidak sesulit yang dibayangkan, karena kami punya kumpulan PPI Kyoto yang mayoritas muslim. Jadi tidak ada masalah untuk makanan, solat, puasa dan hal lainnya.

Salam,
Mitzi Alia.

Sunday, June 21, 2015

Welcome Party


Halo.

Karena saya sudah lama sekali tidak posting, akhirnya banyak postingan tertunda. Oke kali ini saya akan bercerita sedikit tentang welcome party yang rabu lalu, 17 Juni 2015, saya hadiri.

Pesta ini ditujukan untuk semua international freshmen dan exchange students. Awalnya saya ragu untuk menghadiri acara ini, karena saya pasti beresiko untuk pulang malam naik sepeda. Tapi karena saya sudah mengisi data kehadiran 2 minggu yang lalu, mau tak mau saya harus ikut acara ini.

Dibilang welcome party, tapi saya sudah 2 bulan disini. Mungkin lebih tepat kalau dibilang after midterm party ya, karena minggu lalu saya baru saja menghadapi ujian tengah semester. Dan di saat itulah saya sangat hectic dan 'stress'. Tentu saja stress ya, karena ini adalah ujian pertama saya. Saya sama sekali tak ada bayangan tentang jenis soal, penilaiannya, dan jumlah soal yang akan keluar. Maka dari itulah saya merasa sangat tertekan. Ditambah pula, saya menghadapi 2 UTS sekaligus di hari yang sama, UTS fisika dan UTS algebra. Sangat menjadi beban. Tapi setelah hal itu berlalu, rasanya saya menjadi lebih ringan.

Oke, akhirnya saya pun menghadiri acara welcome party ini. Saya bertemu beberapa orang Indonesia yang biasa saya temui saat acara kumpul PPI Kyoto. Ternyata banyak juga ya orang Indonesia, bahkan ada beberapa yang belum saya kenali. Welcome party ini dimulai ja, 18.30, setelah pembukaan oleh President of Kyoto University. Sungguh kehormatan bagi saya untuk bisa berjumpa dengan President of Kyodai sedekat ini. Tak semua orang mendapat kesempatan langka seperti ini. Dan saya baru sadari, inilah kelebihan dari international students. Kami sangat disambut dan dihormati oleh mereka.
Ini President of Kyoto University

Setelah sambutan-sambutan, kami pun mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum. Kemudian bersama-sama kami bersulang dan berteriak 'Kanpai!'. Cukup ramai dan mewah. Banyak makanan yang dihidangkan, bahkan ada makanan khusus berlabel 'halal'. Wah, sungguh baik sekali pihak Kyodai. Beberapa juga ada makanan khusus vegetarian yang sudah pasti aman untuk kita makan. Makanan Jepang lain juga kebanyakan menggunakan sayur dan ikan mentah seperti tempura, sashimi dan sushi, sehingga kami bisa leluasa untuk memilih makanan. 

Ini hall Welcome Party yang digunakan
Makanan yang dihidangkan
Sembari makan hidangan, kami berkeliling saling berkenalan dengan sesama murid internasional. Kesempatan yang langka untuk saling mengenal. Acara yang bagus untuk kami, sebagai minoritas di sini. 

Selain berbicara dengan orang-orang, pihak Kyodai juga mengadakan pertunjukan kecil, seperti tarian Jepang, nyanyian, dan trik-trik unik (yang saya tak tau apa namanya, mereka hanya memainkan bola dan kotak, seperti sirkus).

Sekitar jam 20.30, pesta pun selesai, dan kami dipersilakan untuk pulang, sebab ruang hall yang dijadikan tempat pesta akan segera dibersihkan dan ditutup. 

Acara yang menarik, sayangnya karena terlalu menikmati acara tersebut, saya tidak terlalu banyak mengambil foto.


Salam,
Mitzi Alia

Saturday, June 20, 2015

Air

Hisashiburi ne.

Sudah lama sekali sejak saya terakhit kali post ya, sekitar 3 minggu yang lalu. Yah, bukannya saya tidak mau ngurus blog ini lagi, tapi memang saya lagi tidak banyak ide untuk diceritakan. Mungkin ide itu banyak, hanya saja saya tidak punya cukup banyak waktu untuk menulis.

Sebelumnya saya pernah membahas tentang sungai bukan? Nah kali ini saya akan membahas sistem air di Jepang. Mungkin saya hanya mengambil contoh dari Kyoto yang saya tahu, tapi daerah lain juga tidak banyak berbeda.

Sumber air di Kyoto yaitu berasal dari sebuah danau besar, namanya danau Biwa (琵琶湖; Biwako). Danau ini, saya pikir sama besarnya dengan danau Toba yang ada di Sumatera Utara, ternyata lebih besar dari itu. 
Ini Biwako dari atas
Danau ini merupakan danau tempat sumber air murni untuk daerah Kansai. Karena itu keberadaan dan kebersihan danau ini sangat penting untuk orang Kyoto, karena danau ini adalah sumber kehidupan mereka. 


Terbayang seberapa besarnya?
Air dari danau ini dialiri menuju rumah-rumah melewati kanal-kanal terbuka. Tidak di bawah tanah. Mungkin kalian tidak akan terbayang bahwa aliran kanal ini akan tetap bersih hingga sampai ke rumah warga. Karena siapapun bisa melihat aliran air itu dan bisa 'membuang' sampah ke dalamnya. Well, itu kalau kita masih berpikiran kita di Indonesia. Sayangnya ini di Jepang, hal semacam itu takan pernah terjadi.

Ini salah satu kanal dari Biwako
Kanal-kanal yang berasal dari danau ini terus mengalir, dari kanal besar yang terbuka hingga kanal kecil yang memiliki filter menuju rumah-rumah warga. Tidak seperti di Indonesia yang kita harus membeli air bersih per galon, Jepang menggunakan aliran semacam ini untuk mendistribusikan air bersih. Sehingga setiap air yang mengalir di rumah itu adalah air bersih. Kita bebas minumm melalui keran yang ada di rumah. Dan bagi saya ini juga sangat efektif dalam pendistribusian air. 

Danau ini sudah terkenal dari jaman dulu di Jepang. Orang Jepang terus menjaga kebersihan danau ini karena mereka sangat sadar bahwa tanpa danau ini, mereka taakan bisa minum air bersih. Selain hal ini, hal yang membuat saya kagum yaitu bahwa orang Jepang dari dahulu telah memikirkan hal semacam ini. Saat Indonesia masih sibuk dengan kekuasaan, penjajahan, dan hal lain, pemerintah Jepang telah membangun sistem pendistribusian semacam ini, untuk keberlangsungan perkembangan Jepang di masa yang akan datang.

Inilah kelebihan Jepang, bahwa mereka menyusun strategi pembanghunan demi menjaga keberlangsungan negara mereka. Pikiran mereka sangat maju dan melihat ke depan. Ini lah hal yang belum kita, sebagai warga Indonesia, miliki.

Saya sendiri juga meskipun jurusan teknik, mengambil mata kuliah 'sustainable development' yaitu yang mempelajari cara untuk mempertahankan perkembangan suatu strategi. Misalnya mempertahankan kelangsungan negara, kelangsungan pemerintahan, kelangsungan air, kelangsungan ekonomi, kelangsungan sosial, dan lain-lain.


Dan, saya berharap, tulisan saya ini bisa menjadi baku tembak bagi kalian, warga Indonesia, yang masih hanya mekikirkan diri sendiri. Sudah saatnya kalian melihat ke depan, melihat kelangsungan masa depan generasi kalian berikutnya jika kalian masih ingin melihat negeri tercinta kita ini berdiri dengan independen.



Salam,
Mitzi Alia



Sunday, May 31, 2015

Sungai

Konbanwa.

Tumben saya post malem-malem ya, yah, tidak apalah, mumpung saya lagi mengerjakan tugas yang berhubungan dengan 'sungai' saya akan sedikit membahas sungai di Jepang. Hampir semua sungai di Jepang mirip sih, jadi saya hanya akan membahas satu sungai yang cukup terkenal di Kyoto, yaitu Kamo-gawa.

Minggu lalu saya baru saja field observation dalam mata kuliah 'Introduction to Global Engineering'. Mata kuliah ini seperti mengenalkan submajor di dalam jurusan saya, yaitu Civil Engineering. Kebetulan dalam kelas kali ini, saya mendapatkan kelas urban and landscape design dan kita pun menganalisa landscape dari sungai besar di Kyoto, untuk mengetahui elemen-elemen yang berpengaruh di sekitar sungai tersebut. 

Ini Kamogawa dari satu sudut, bisa liat Gunung Daimonji
di belakangnya
Ini persimbangan Kamo-gawa, di dekat stasiun Demachiyanagi
Kamo-gawa dari bagian atas
Selama field observation ini, saya banyak mendapat informasi mengenai sungai-sungai di Jepang, terutama Kamo-gawa. Ternyata memang, Jepang sudah lebih dulu maju dari Indonesia. Mengapa? Menurut cerita yang saya dengar dari Profesor saya, Jepang telah memulai industrialisasi sejak tahu 1890, dan di saat itu, banyak sekali industri-industri yang memanfaatkan sungai sebagai limbah pembuangan. Sadar akan hal tersebut yang salah, bahwa air adalah sumber kehidupan mereka, 20 tahun kemudian akhirnya mereka memulai memindahkan industri ke daerah pinggir kota dan membuat regulasi yang sangat ketat mengenai pembuangan limbah pabrik mereka. Yang membuat saya terkejut, mereka juga mengadakan kegiatan volunteer untuk membersihkan sungai yang telah terkontaminasi. Saya penasaran apa yang mereka lakukan untuk mengatasi sungai terkontaminasi itu, tapi profesor tidak memberitau lebih lanjut mengenai hal itu, dan juga sepertinya agak sulit baginya untuk menjelaskan dalam bahasa inggris. Kegiatan sukarelawan untuk membersihkan sungai itu juga masih berlangsung samapai sekarang. Tak heran sungai di Jepang sangatlah bersih dan indah. 

Tumbuhan sengaja dibiarkan tumbuh untuk menjadi
tempat tinggal ikan ikan kecil
Di Indonesia, tak akan terpikirkan oleh saya untuk main air di sungai, karena sungai di Indonesia berwarna coklat. Tentunya tidak ada yang mau mandi atau bermain di sungai seperti itu. Di saat yang sama juga, saya sadar bahwa di waktu Jepang menyadari pentingnya sungai, Indonesia justru baru memulai industrialisasi dan membuang sampah juga limbah di sungai. Sungguh ironi. 

Sungai yang telah dibersihkan itu juga tidak hanya dibiarkan alami, tapi dibangun sedemikian rupa sehingga warga tertarik untuk menghabiskan waktu di pinggir sungai, untuk piknik, sekedar berjemur, atau lari dan bersepeda di sepanjang aliran sungai. Sistem undakan, aliran pembuangan air dan shotcrete juga diaplikasikan dengan baik di sungai. Jembatan-jembatan dibangun dengan struktur yang baik (lain kali saya akan membahas tentang jembatan, karena Jepang juga sangat terkenal dengan jembatan yang kokoh).

Ini shotcrete yang diaplikasikan di pinggir sungai
Ini jembatan antar jalan, di bawahnya ada jalanan sepanjang
aliran sungai untuk jogging atau berseda
Undakan air untuk megurangi kecepatan aliran air
Kamo-gawa juga sebagai tempat rekreasi
Beberapa anak yang bermain di Kamo-gawa
Bersama teman sekelas, kami berdiskusi mengenai sungai-sungai yang ada di negara masing-masing. Saya merasa, mengikuti kuliah di luar negeri memang sangat menguntungkan, meski berat. Wawasan saya bertambah sangat pesat. Selain karena saya adalah foreigner, mata kuliah di kelas saya dan teman internasional mendukung saya untuk semakin berpikiran meluas. Tidak seperti di Indonesia, saya tidak akan bisa mendapatkan pengetahuan seperti ini. 

Teman-teman saya melakukan observasi
Yah sempet juga lahya ambil foto
Mata kuliah saya juga sangat beragam, kebanyakan yang 'mendokusai' itu malah menambah wawasan saya, yah memang karena sulit dan berat itulah jadinya saya harus melakukan berbagai pencarian, penelitian dan analisa. Seperti saat saya melakukan tugas mengenai kelas struktur dan kelas geomekanik, yang mengharuskan saya membaca berbagai jenis paper dan menganalisa sendiri cara kerja masing-masing sistem atau struktur. Sungguh ini ngerepotin banget, tapi setelahnya, saya jadi tau tentang hal itu, dan membuat saya memiliki wawasan lebih luas. Yah, memang semua akan indah pada saatnya.


Salam,
Mitzi Alia

Friday, May 29, 2015

Teman

Seperti hal yang tidak penting, tapi mungkin penting untuk kalian yang ingin tau apa rasanya jadi perantau di negeri orang. Mungkin tidak semua orang berpikiran sama, ada aja yang tidak setuju dengan ini, tapi ini hanya catatan saya, apa yang saya rasakan selama di sini. Mungkin saya terlalu sensitif dan berlebihan bagi kalian, tapi tidak ada tambahan apapun dari tulisan saya.

Saya ingin sedikit berbagi rasa. Mungkin para perantau di negeri orang telah merasakan hal ini berkali-kali, dan saya sebagai pendatang baru, entah kenapa harus merasakan ini di saat yang tidak tepat. Saya tau bentar lagi midterm exam akan datang, bahkan tugas-tugas mulai semakin sulit. Tapi justru ini lah yang sangat mengganggu saya. Entah sudah keberapa kali saya merasakan kehampaan, kesepian, kebosanan dari kehidupan saya ini. Kupu-kupu, mungkin kata-kata yang tepat. Memang saya tak punya waktu untuk santai, tapi akhir-akhir ini saya kehilangan gairah untuk belajar. Awalnya saya pikir saya jenuh, tapi saya sadari bukan itu penyebabnya.

Saya hanya butuh teman.

Teman yang tidak hanya sekedar nama, teman yang dulu bisa saya dapatkan semasa di ITB, teman seperjuangan, teman yang bisa saya ajak diskusi, belajar bersama, main bersama, tertawa bersama, gabut bersama, dan kami bisa saling support dalam masalah kuliah.

Di sini saya tidak memiliki itu. Entah sudah berapa kali saya berusaha mencoba lebih dekat dengan teman-teman internasional saya, tapi tidak bisa. Selalu ada sesuatu yang menjadi penghalang untuk bisa lebih dekat dengan mereka. Saya tidak bermaksud rasis atau sejenisnya, tapi itulah yang saya rasakan. Perbedaan background, adat dan kebiasaan, membuat saya harus lebih banyak 'memaklumi' dan tidak bisa menjadi diri saya yang sebenarnya, saya yang harus beradaptasi. Ini membuat saya frustasi. Di samping saya butuh teman untuk mendukung saya dalam akademik, saya juga butuh teman sepemikiran, dan sejalan dengan keinginan saya untuk bisa menggali potensi saya.

Ini yang tidak saya dapatkan di sini. Teman. Bukan hanya teman dalam arti harfiah, tapi arti 'teman' sesungguhnya, secara batin.

Akhir-akhir ini saya sering sekali stuck dengan tugas, dan membuat saya frustasi karena tidak tau harus minta bantuan pada siapa. Memang ada teman sekelas saya yang dari indonesia juga, tapi dia berbeda dengan saya, saya tidak bisa seutuhnya menjadi diri saya. Dia bisa belajar dengan sendiri, sementara saya tidak. Saya juga tidak bisa terus-terusan bergantung dengannya. Dia bisa dengan mudah mendapatkan teman, dekat dengan mereka, tidak seperti saya. Dia memiliki wawasan luas, tidak seperti saya. Saya hanya gadis kikuk yang sulit sekali untuk mendapatkan teman di awal permulaan. Tapi saya sadar bahwa saya bukan tipe orang yang bisa hidup tanpa teman, bukan tipe orang yang suka menyendiri dan bisa menyelesaikan semua masalah sendiri. Saya butuh teman, tapi saya menyerah untuk mendapatkannya. Kontradiksi sekali.

Saya juga sempat berharap banyak dengan PPI daerah Kyoto, berharap bahwa mereka bisa menjadi keluarga saya yang baru, yang bisa dekat dengan saya secara batin, dan membantu saya untuk menjadi diri saya sendiri. Tapi kenyataan tidak semanis itu, tidak seperti di film-film bahwa kehidupan itu indah. Sosialisasi sungguhlah tidak semudah apa yang kau pikirkan.

Tidak semua warga Indonesia di daerah Kyoto tergabung dan aktif dalam PPI, yah mungkin ini hal wajar saja. Tapi banyak dari mereka yang memang benar-benar ke Jepang untuk menghindari orang Indonesia, mereka tak lagi mau berteman dengan orang Indonesia. Hal ini membuat saya terkejut. Setelah bergabung pun, ternyata apa yang saya rasakan tidaklah sehangat yang saya bayangkan. Tidak ada kedekatan secara batin. Mungkin karena saya masih terlalu muda, dan kebanyakan anggota PPI adalah orang dewasa yang sudah berkeluarga atau setidaknya dalam master degree. Ini semakin menyulitkan saya untuk mendapatkan teman seperjuangan yang saya inginkan.


Ini saat acara kumpul PPI Kyoto
Ini 'teman' seperjuangan saya
Saya pikir, bukankah kita minoritas? Seharusnya, kita secara tidak langsung akan merasa ingin bergantung dengan minoritas yang lain bukan? Ingin saling berbagi perjuangan dengan sesama minoritas bukan? Tapi kenapa saya tidak merasakan kekeluargaan yang erat di dalamnya? Apa yang salah?

Bahkan saat PPI Kyoto hendak mengadakan acara budaya Indonesia pun, hanya sedikit sekali yang berpartisipasi, menolak dengan berbagai alasan. Bukankah ini kesempatan yang tepat untuk saling mengenal sesama orang Indonesia? Tidakkah kau malu nanti jika berpapasan dengan orang Indonesia saat sedang bersama teman non-Indonesia, tapi sebagai sesama Indonesia, kalian tidak saling sapa?

Mungkin ada beberapa kalian yang berpikiran ini hal yang terlalu berlebihan untuk dipikirkan, tapi tolonglah, sebagai sesama warga minoritas, saya hanya ingin kita lebih dekat, karena kita memiliki beban dan perjuangan yang sama.

Saya merasakan kehangatan dan kekeluargaan yang mendalam selama di ITB yaitu di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Kebudayaan Banten, atau biasa disebut Debust. Kebanyakan anggotanya adalah yang berasal dari Banten, entah kenapa saya merasakan ikatan yang kuat di antara kami, bahkan pada kakak tingkat, sudah seperti sodara dan adek kakak. Sampai sekarang pun, merekalah yang menjadi warna hidup saya, meski hanya sebatas kontak dunia maya. Mereka yang selalu membuat saya kangen akan Indonesia, selain keluarga saya sendiri. Inilah yang saya harapkan pada awalnya, ketika masuk ke lingkungan PPI Kyoto.

Ini beberapa anggota Debust
Ini saat kami menampilkan tarian dari Banten
Tim penari saya
Ini saat acara perpisahan kejutan
Perpisahan ini untuk melepas saya yang pindah ke Jepang
Tidak semua dari mereka seangkatan dengan saya
Tapi, inilah keadaannya, saya lagi-lagi harus 'beradaptasi' untuk survive di sini. Semoga saya masih tetap bisa mempertahankan kepribadian asli saya, meski harus menahan diri selama 4 tahun di sini.

Salam,
Mitzi Alia.

Friday, May 22, 2015

Structural Engineering

Hisashiburi ne.

Wah sudah 2 minggu sejak golden week. Yah, sangat sibuk. Bentar lagi sudah masuk minggu midterm. Tak heran sebagian dosen memperbanyak PR, report, dan tugas presentasi. LELAH KAWAN. Yah, inilah rasanya kuliah di negeri orang. Kupu-kupu ya, bisa dibilang gitu. Sekalinya ada hari libur seperti sabtu dan minggu pun saya gunakan untuk mengerjakan tugas minggu depan, supaya tidak numpuk di waktu deadline. Selain tugas juga saya harus belajar sedikit demi sedikit, mempersiapkan ujian nanti. Saya juga ikut les privat bahasa Jepang, dan sensei meminta saya untuk menghapalkan 128 kanji. Oke, saya tak lagi punya waktu santai.

Yah, selain kesibukan yang saya lewati akhir-akhir ini, saya baru saja dikenalkan dengan kelas structural engineering. Seperti judul post kali ini, saya sangat tertarik dengan major ini, sesungguhnya. Karena tentunya Jepang sudah sangat terkenal dengan berbagai structure yang telah mereka buat dan memiliki kemampuan tingkat atas, contohnya saja seperti skyscraper, bridge, dam, rock anchor, water tunnel, underwater tunnel, dan sebagainya.

Mengikuti kelas ini, telah memberi saya lebih banyak wawasan tentang structural engineering. Dosen saya membagi kelas dengan kelompok yang terdiri dari 2 orang, oke maksudnya berpasangan. Dan masing-masing dari kami harus mempresentasikan sebuah struktur, bagaimana cara kerjanya, bahannya, juga case study-nya. Karena hasil dari presentasi itu yang paling menarik bagi saya adalah mekanisme skyscraper, maka saya hanya akan membahas skyscraper kali ini.

Banyak dari teman-teman saya mempresentasikan skyscraper tertinggi di dunia, seperi Tokyo Skytree di Tokyo (634m), Burj Khalifa di Dubai (830m) dan Canton Tower di Guangdong (600m). Mereka menceritakan mekanisme pembuatan gedung tersebut sehingga bisa tahan dengan hempasan angin, getaran tektonik, dan juga cara menjaga kestabilan gedung agar tetap berdiri menjulang.

Tokyo Skytree
Canton Tower
Burj Khalifa
Saya juga baru tau ada mekanisme bernama "tuned mass damper" yang biasanya diposisikan di bagian atas skyscraper yang berfungsi untuk menjaga kestabilan gedung tersebut. Caranya yaitu, ketika gedung tersebut mengalami goyangan ke kanan, bola damper ini akan bergerak ke kiri, dan juga sebaliknya, sehingga meniadakan goyangan yang dirasakan gedung.

Contoh mass dumper
Mass dumper dari dekat
Ini cara kerja mass dumper
Selain karena mekanisme itu, skyscraper tersebut juga punya ciri khas masing-masing untuk mempertahankan gedungnya. Contohnya, Tokyo Skytree dengan bentuk tripoid nya, yaitu desain yang dibuat mirip dengan tripod kamera. Tokyo Skytree memiliki fondasi yang kuat, dilambangkan seperti akar yang kuat untuk menopang pohon besar.
Bentuk fondasi Tokyo Skytree
Struktur tripoid Tokyo Skytree
Sementara Canton Tower memiliki bagian "twist" di tengah gedungnya, yang merubah arah oval bagian dasarnya. Canton pada dasarnya hanya terdiri dari 3 pattern, yaitu columns, rings, dan braces. Pattern ini disusun sedemikian rupa, menghasilkan struktur geometri yang rumit dan kuat.

Struktur Canton dari atas
Ini bagaimana "twist" Canton didasari
Umumnya, gedung skyscraper memiliki celah-celah atau pattern-pattern steel seperti Tokyo Skytree dan Canton Tower di bagian luar gedung, untuk mengurangi kecepatan angin yang datang dengan memecahnya di bagian celah-celah pattern steel tersebut. Tapi, tidak bagi Burj Khalifa yang memiliki konsep lain untuk meminimalisir hempasan angin yang menerpa gedung setinggi 830m ini. 

Burj Khalifa didesain sangat unik, membentuk segitiga yang berbeda dengan Tokyo Skytree. Bentuk yang unik ini, selain menjadi ciri khas Burj Khalifa, juga menjadi sanggahan yang kuat untuk menahan gedung tertinggi di dunia ini.

Ini dasar bentuk Burj Khalifa
Desain Burj Khalifa sangat unik, saya pun terpesona melihat kehebatan mekanisme gedung tersebut. Segitiga itu juga tidak hanya untuk memperkuat fondasi gedung, tapi juga untuk memecah kecepatan angin yang menabrak gedung, karena seifat fluida udara, yang akan terpecah bila menabrak ujung segitiga, dan juga akan memperlambatnya ke arah lain.

Bentuk unik Burj Khalifa
Mekanisme angin yang dihadapi Burj Khalifa
Saya sangat beruntung bisa mengetahui hal ini, dan saya senang bisa mempelajari banyak dari kelas ini. Saya berharap bisa terus memahami structural engineering, sehingga saya bisa menerapkannya di Indonesia kelak.

Sebagai penutup, ini beberapa perbandingan skyscraper di dunia.



Salam,
Mitzi Alia.